5/31/2014

1 19 Memorable Scenes

1. A Trip to the Moon (1902)
"Mendarat di bulan"

2. Safety Last! (1923)
"Bergelantungan pada waktu"

3. Un Chien Andalou (1929)
"Mata yang teriris"

4. City Lights (1931)
"Akhir bahagia"

5. Casablanca (1942)
"Wajah yang mengatakan segalanya"

6. Ikiru (1952)
"Berayun dalam kesendirian"

7. The Night of the Hunter (1955)
"Malam yang kelam"

8. The Seventh Seal (1957)
"Bermain dengan kematian"

9. La Dolce Vita (1960)
"Malam petualangan liar"

10. Band of Outsiders (1964)
"Let's dance"

11. Red Desert (1964)
"Terasing dalam kabut"

12. The Good, the Bad and the Ugly (1966)
"Mexican standoff"

13. 2001: A Space Odyssey (1968)
"The Dawn of Man"

14. Patton (1970)
"Aku ingin kalian mengingatnya"

15. Apocalypse Now (1979)
"Muncul dari ketiadaan"

16. Manhattan (1979)
"Menyongsong fajar"

17. Stalker (1979)
"Zona misteri"

18. Wings of Desire (1987)
"Menatap dengan hasrat"

19. Landscape in the Mist (1988)
 "Tangan Tuhan"
 
 
 

0 5 Film Terburuk Terbaik Sepanjang Masa

Mungkin sudah sewajarnya jika seorang sutradara berkeinginan membuat sebuah film dengan sebaik-baiknya. Tapi karena satu atau dua sebab, hasilnya mungkin tidak sesuai yang diharapkan atau justru lebih buruk lagi. Dari sini terciptalah yang namanya film buruk. Tapi jangan salah, film buruk tak selamanya buruk. Ada film yang memang buruk dalam arti sebenarnya, tapi ada juga film buruk yang terlihat istimewa. Kadang, jika kadar keburukannya melebihi yang diharapkan, film itu justru bisa menjadi tontonan yang luar biasa menghibur. Seperti kalimat klise yang usang, ‘jika kau sangat membenci seseorang, bisa jadi akhirnya justru akan menyukainya.’ Seperti itulah, keburukannya justru membuat film-film ini mendapat tempat khusus dalam benak penontonnya. Nah, daftar berikut ini adalah film-film yang masuk kategori sangat buruk sehingga akhirnya justru terlihat luar biasa.

Catatan khusus: Apapun genrenya, seserius apapun tema filmnya, anggap saja sebagai film komedi, maka dijamin anda akan mendapatkan senyuman dan tawa tak terhingga dalam setiap adegannya yang konyol dan absurd.

1. Plan 9 from Outer Space (1959)
 
 
Gabungkan antara alien, vampir dan kejeniusan seorang Ed Wood, maka jadilah sebuah film yang mencoba sebaik mungkin untuk menjadi yang terburuk di segala level, mulai dari akting, dialog, efek, dan yang menjadi ‘kekuatan’ utama dari film ini, editing. Tak mengherankan jika waktu berlalu begitu cepat dalam film ini.
 
2. Manos: The Hands of Fate (1966)
 
 
Jangan pernah menyuruh seorang penjual pupuk untuk membuat film. Serius. Siapa yang bisa tahan menyaksikan seorang penjaga rumah yang terus-menerus berjalan sempoyongan dengan kakinya yang besar? Atau melihat para wanita bergulat sepanjang malam dengan mengenakan gaun tidur? Dan polisi yang hanya berjalan sejauh 2 meter untuk memeriksa suara tembakan? Belum lagi anak kecil yang berbicara dengan suara wanita dewasa yang dibuat cempreng? Selesai? Sebaiknya begitu.
 
3. Troll 2 (1990)
 
 
Sekelompok goblin vegetarian yang repot-repot memburu manusia untuk diubah menjadi tanaman sedangkan lingkungan sekitarnya dipenuhi oleh pepohonan hijau, makanan dan minuman berwarna hijau cerah seperti yang tersaji dalam pesta ulang tahun anak kecil, dan senjata terampuh yang pernah ada dalam sebuah film. Oh, dan jangan lupakan dialog-dialog yang bisa membuat seseorang terguling-guling sakit perut menahan tawa, menjadikan Troll 2 salah satu film terlucu yang pernah ada di muka bumi. Namun sayangnya, Claudio Fragasso tak berniat membuat film komedi, dan hebatnya lagi, tak ada satu pun troll di film ini. Apapun itu, ingatlah selalu pada nasehat paling bijak yang pernah dilontarkan seorang ayah pada anaknya, “Kau tak boleh mengencingi keramah-tamahan!!”
 
4. Showgirls (1995)
 
 
Sejujurnya, sangat sulit untuk memasukkan Showgirls dalam kategori film terburuk karena satu hal, film ini benar-benar dibuat dengan serius. Maksudnya, coba saja lihat besarnya biaya produksinya, deretan pemain yang terdiri dari para aktor profesional, dan sutradara yang meramunya. Jelas ini bukan standar film kelas B yang dibuat dengan asal-asalan. Sebegitu seriusnya sampai-sampai adegan kecil seperti membuka baju, duduk, tertawa, dan sebagainya, dibuat dengan sedramatis mungkin, seolah-olah itu adalah kejadian penting yang akan mengubah dunia. Tapi tetap saja itu tak mampu menutupi buruknya skenario dan terutama akting Elizabeth Berkley yang seperti maneken yang bersikap sangat menyebalkan dengan bibirnya yang dimiring-miringkan.

5. The Room (2003)
 
 
Buruk. Sangat buruk sekali. Jika ada kata yang maknanya lebih buruk dari buruk, maka kata itu layak disematkan pada film ini. Seberapa buruk film ini? Begini saja menjelaskannya: Ini adalah jenis film dimana setiap kali tokoh-tokohnya bertemu selalu diawali dengan kalimat, “Hai, apa kabar?” lalu mereka membicarakan hal-hal konyol seperti, “Aku terkena kanker!” atau “Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena cinta itu buta.” Kemudian seseorang bilang dengan mimik serius, “Dengar, aku punya masalah serius” tapi beberapa detik kemudian dia melanjutkan, “Tapi aku tak ingin membicarakannya saat ini” dan lawan bicaranya dengan enteng mengatakan, “Tenang, semuanya akan baik-baik saja!” Seperti itulah The Room. Seandainya Tommy Wiseau membuat film lagi, dengan senang hati saya akan menontonnya.

3/07/2014

1 Landscape in the Mist (1988)




Sutradara: Theo Angelopoulos 
Pemain: Michalis Zeke, Tania Palaiologou, Stratos Tzortzoglou

Apa yang bisa dikatakan tentang film perjalanan? Seseorang melakukan perjalanan,bertemu orang-orang baru dan mengalami berbagai kejadian dalam prosesnya, dan akhirnya dia sampai di tujuannya. Hanya itu? Tentu tidak. Sebagaimana lazimnya premis yang ditawarkan oleh film perjalanan, perjalanan yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya tidak semata perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, tapi juga merupakan perjalanan spiritual. Bahkan sebetulnya dalam kebanyakan film yang masuk kategori ini, perkembangan spiritual sang tokohlah yang menjadi sorotan utama. Itu juga yang akan ditemui dalam Landscape in the Mist karya Theo Angelopoulos yang memaparkan kisah suka duka dua anak manusia yang melakukan pengembaraan untuk menemui ayahnya.

Pada suatu malam, dua orang anak kecil berjalan bergandengan tangan menuju stasiun kereta. Tepat saat sebuah kereta berhenti, mereka menatapnya dengan seksama, seolah-olah menunggu seseorang keluar dari salah satu gerbongnya. Keberadaan mereka dikenali oleh seorang penjual, yang menanyakan alasan kedatangan mereka hampir setiap malam ke stasiun itu. Sesaat sebelum kereta mulai berangkat, mereka berlari mendekat seperti ingin naik kereta itu, tapi gagal. Misterius, begitulah pembukaan dari Landscape in the Mist. Kita tak tahu latar belakang dua anak kecil itu. Tapi seiring berjalannya cerita yang bergulir lambat, identitas keduanya dan alasan kenapa mereka datang ke stasiun itu terungkap.

Alexander, seorang anak kecil yang tinggal bersama ibunya di sebuah tempat di Yunani tahun 1980-an, setiap hari memimpikan sosok ayah yang tak pernah ditemuinya. Dia selalu menceritakan mimpi-mimpinya itu pada kakak perempuannya, Voula. Bertemu sosok sang ayah menjadi puncak harapan dari keduanya. Ketika keinginan itu sudah tak tertahankan lagi, keduanya memutuskan untuk pergi menuju Jerman, tempat sang ayah berada menurut perkataan ibunya. Perjalanan yang kelihatan mudah bagi orang dewasa namun tidak bagi mereka berdua yang masih kecil. Terlebih lagi mengingat kenyataan bahwa keberadaan sang ayah hanyalah karangan ibunya untuk menutupi realitas yang, bagi anak kecil, sulit untuk diterima. Pada suatu titik, kebenaran ini terungkap, tapi mereka berdua tak mengindahkannya dan bertekad meneruskan pencariannya. Pengungkapan ini menjadi titik balik penting dalam film ini. Angelopoulos menggunakan perjalanan mereka sebagai alegori perjuangan manusia mencari arti kehidupan dalam dunia yang kelihatannya sudah tak berarti lagi.

Sepanjang perjalanan mereka berdua bertemu banyak orang. Dua yang menonjol adalah pertemuan dengan Orestes, seorang pemuda dari rombongan teater, dan dengan seorang pengemudi truk. Orestes, dan kelompoknya, adalah orang-orang yang sedang dalam pencarian juga, melanglang buana ke penjuru Yunani mementaskan drama yang sama. Hanya saja mereka tak menemukan penonton. Suatu kali, Orestes menemukan sebuah negatif film dan bertanya apa mereka bisa melihat sebatang pohon yang terletak di balik kabut. Orestes hanya menggoda mereka karena memang tidak ada pohon dalam negatif itu. Seperti itulah pencarian mereka, mencari sesuatu yang tak terlihat, atau justru tak ada di sana. Mungkin karena itulah kakak beradik itu menjadi dekat dengannya, disamping karena pembawaannya yang kebapakan. Waktu yang dihabiskan bersama Orestes adalah oase ditengah-tengah pencarian yang tak menentu. Sedangkan pertemuan dengan seorang supir truk adalah waktu tersuram dalam perjalanan mereka, terutama bagi Voula. Dan ujungnya, kita disuguhi sebuah adegan brutal yang dikemas dengan sangat indah oleh Angelopoulos. Kita hanya melihat dampak kebrutalan itu lewat darah (dari kemaluannya yang terkoyak?) yang dioleskan Voula di dinding truk.

Seperti yang saya katakan di awal, ini adalah perjalanan fisik dan spiritual. Perjalanan mereka berdua adalah transisi dari masa anak-anak yang lugu menuju dunia orang dewasa. Melalui pertemuan dengan berbagai jenis orang mereka mendapatkan pengalaman baru yang mendewasakan. Saat Alexander lapar, dia harus bekerja untuk mendapatkan uang untuk membeli makanan. Inilah dunia orang dewasa itu, dimana terkadang peristiwa menyedihkan dan menyenangkan bersanding dengan ironis (adegan kuda mati dan pernikahan yang menjadi latar belakangnya). Sepanjang perjalanan mereka mengalami rasa suka, sedih, putus asa, ketidakpedulian orang-orang di sekitar, keterasingan, pengkhianatan, tindakan biadab dan sepercik cinta.

Seperti film-film Angelopoulos yang lain, Landscape in the Mist penuh dengan adegan-adegan dengan pengambilan gambar yang tertata rapi, dengan banyak momentum sunyi untuk berkontemplasi, liris dan dipenuhi dengan imaji-imaji simbolik. Orang-orang yang membeku karena terpana dengan salju yang turun tiba-tiba, sepotong tangan raksasa (tangan Tuhan?) yang diangkat dari dasar lautan adalah beberapa adegan yang akan selalu melekat dalam ingatan. Tentu saja ada makna dibalik semua itu, bahkan bisa jadi berlapis, jika ditelaah lebih lanjut. Seperti yang tergambar dalam adegan penutup, dimana Alexander dan Voula berjalan dalam selimut kabut dan setelah beberapa saat sebatang pohon terlihat di kejauhan. Itu seperti harapan yang menjadi kenyataan, setelah di awal mereka tak bisa melihat pohon di balik kabut yang, menurut Orestes, ada di negatif film yang mereka temukan. Angelopoulos sepertinya ingin kita melihat setiap adegan dengan seksama. Dan dengan kesabaran dan ketelitian, kekayaan makna yang tersirat dalam setiap adegan akan terkuak.


0 Santa Sangre (1989)



Sutradara: Alejandro Jodorowsky
Pemain: Axel Jodorowsky, Blanca Guerra, Adan Jodorowsky, Guy Stockwell

Santa Sangre, film dari Alejandro Jodorowsky ini bergenre horor. Jadi sudah sewajarnya bila penonton mengharapkan adegan-adegan yang mampu membuat bulu kuduk merinding dalam film ini. Dan, dalam taraf tertentu, itulah yang terjadi. Akan tetapi, mengkotak-kotakkan Santa Sangre dalam kategori yang sempit semacam itu hanya akan menjadi perangkap yang mengkerdilkan kekayaan yang terkandung dalam film ini. Santa Sangre adalah parade imajinasi yang sureal, ganjil dan absurd, dimana bayangan samar Fellini, Bunuel dan Lynch turut serta dalam iring-iringan yang riuh namun kelam.

Adegan pembuka memperlihatkan seorang lelaki, telanjang dan sepertinya ketakutan, tengah meringkuk di atas sebatang kayu di bangsal rumah sakit jiwa. Lalu dokter dan perawat masuk membawa dua porsi makanan, salah satunya adalah ikan mentah. Seorang dokter menawarkan makanan yang wajar dan meminta Fenix, nama lelaki itu, untuk makan seperti layaknya manusia normal. Diabaikan, dokter itu menawarkan ikan mentah, yang anehnya justru dimakan dengan lahap oleh Fenix. Tampak jelas bahwa kondisi mental Fenix telah terdegradasi sampai taraf mendekati binatang. Dia bahkan tidak mau, atau tidak bisa, atau takut, untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Muncul pertanyaan, apa yang membuatnya berlaku abnormal seperti itu? Di titik ini, Jodorowsky memainkan peran sebagai seorang psikoanalis yang melacak akar permasalahan psikologis itu di masa lalu.

Melalui kilas balik, penonton diajak menelusuri jejak Fenix semasa kecil. Dia adalah seorang pesulap kecil dan dibesarkan di lingkungan sirkus. Ayahnya adalah seorang lelaki gemuk yang ahli melempar pisau sekaligus pemilik sirkus itu. Sedang ibunya selain sebagai pemain sirkus juga merangkap sebagai pimpinan sekte religius Santa Sangre, sekte yang memuja orang suci dalam wujud seorang wanita yang tangannya terpotong. Dikelilingi oleh badut, orang kerdil, binatang-binatang eksotis, dan pertunjukan-pertunjukan ajaib, apakah Felix kecil menjalani masa kecil yang menyenangkan? Jika benar maka dia tentu tak akan berakhir di rumah sakit jiwa. Pada kenyataannya dia mengalami kejadian yang akan membuat mentalnya terganggu. Kedua tangan ibunya dipotong oleh sang ayah, yang kemudian bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri. Semua itu disebabkan oleh adanya wanita lain yang masuk dalam kehidupan rumah tangga itu. Trauma atas kejadian itu masih membekas kuat dalam ingatannya.

Kembali ke masa sekarang, Fenix kabur dari rumah sakit jiwa untuk menemani dan menjadi tangan bagi ibunya yang buntung. Kita melihat bahwa sang ibu adalah sosok yang dominan dalam kehidupan Fenix. Kapanpun dibutuhkan, Fenix akan meminjamkan tangannya pada sang ibu, mulai dari hal sederhana seperti makan sampai melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Ibunya punya kuasa penuh atas kedua tangan Fenix. Dan dari sini, rentetan pembunuhan itu dimulai. Setiap kali ada wanita yang mendekati Fenix, ibunya menggunakan tangannya untuk membunuh wanita itu.

Secara alur cerita keseluruhan, Santa Sangre terlihat seperti horor pembunuhan balas dendam yang klise. Namun bukan Jodorowsky namanya, yang dikenal sebagai dedengkot cult cinema, jika film ini hanya sebatas menawarkan adegan-adegan tikam-tusuk-sayat yang berdarah-darah. Sepanjang film ini penuh dengan imaji-imaji sureal dan ganjil, seperti jika kita sedang bermimpi atau berfantasi. Menelaah dasar logika dari setiap adegan tidaklah berguna, dan mungkin memang tak perlu dijelaskan. Nikmati saja sisi banal dari fantasi ala Fellini yang dipadu dengan gaya surealis Bunuel dalam situasi yang terlihat ganjil dan absurd seperti yang biasa ditemukan dalam film-filmnya David Lynch.


7/04/2013

4 Memories of Underdevelopment (1968)


Judul asli: Memorias del Subdesarrollo
Sutradara: Tomas Gutierrez Alea
Pemain: Sergio Corrieri, Daisy Granados

Fidel Castro, Insiden Teluk Babi, dan ancaman perang nuklir. Bisa jadi tiga hal itulah yang paling sering dibicarakan orang jika menyangkut Kuba, sekaligus menempatkan negara kecil di Laut Karibia itu dalam sorotan dunia. Dekade 1960-an adalah masa paling bergolak dalam sejarah Kuba, dan dalam konteks lebih luas, Perang Dingin antara Soviet dan Amerika Serikat. Revolusi Kuba dan naiknya Fidel Castro merupakan ancaman serius terhadap kepentingan Amerika, yang sebelumnya menjalin hubungan erat dengan rezim Batista. Hubungan itu semakin memanas ketika sekelompok gerilyawan anti Castro yang disinyalir mendapat dukungan dari pemerintahan Kennedy mendarat di Teluk Babi dan semakin meruncing saat Nikita Kruschev mengirimkan misil-misil berhulu ledak nuklir ke Kuba. Pada titik itu, dunia berada di ambang perang nuklir, dan Kuba adalah pemegang kuncinya.

Sejarah mengatakan seperti itu. Akan tetapi diluar hiruk pikuk politik dan bayangan apokaliptik yang akan terjadi, hanya sedikit yang diketahui seperti apa sebenarnya keadaan di Kuba saat itu dan bagaimana kondisi individu-individu yang terperangkap dalam situasi semacam itu. Tomas Gutierrez Alea menyadari penuh hal itu dan lewat Memories of Underdevelopment mencoba menggambarkan keadaan bergejolak itu melalui perspektif orang Kuba sendiri.

Adalah seorang pria dari kelas borjuis, Sergio, yang setelah ditinggal oleh keluarga dan teman-temannya kabur ke Miami, mencoba mendefinisikan tempatnya di tengah komunitas yang berubah. Bimbang, sendirian dan bosan, dia mencerna kembali hubungannya dengan (mantan) istrinya, teman-temannya, dan terutama dengan Elena, seorang gadis belia yang menjadi kekasihnya. Namun Sergio seolah tak mendapati perubahan itu. Kotanya, orang-orangnya, budayanya, semuanya masih tampak sama bagi dirinya.

Meski terselubung, tak sulit untuk menarik garis kesamaan antara kehidupan Sergio dengan keadaan Kuba. Kondisi psikologis seorang individu bisa menjadi cerminan kondisi masyarakatnya (negara). Dua-duanya berada dalam titik kritis, tetapi alih-alih mendapatkan perubahan, keduanya sama-sama stagnan dan tak berkembang. Sergio gagal mengubah Elena menjadi sosok yang sesuai dengan konsep ideal yang ada di kepalanya, sama halnya dengan revolusi yang tak menghasilkan pencerahan dan justru mendorong pada penghancuran diri sendiri. Pada akhirnya Sergio tersandung masalah ketika ingin meninggalkan Elena. Kecewa oleh sebab ketidakmampuannya untuk mengubah keadaan dan menjalin koneksi dengan masyarakat sekitarnya, membuat Sergio menarik diri. Sebuah mekanisme pertahanan diri karena merasa asing dengan sekitarnya. Aku bisa hidup seperti ini selama berpuluh-puluh tahun lagi, kata Sergio, wujud dari penolakannya untuk terlibat dalam realitas. Di kemudian waktu, itulah yang akan dialami oleh Kuba, isolasi dari dunia di sekelilingnya.

Seperti The Mirror-nya Tarkovsky, inti dari Memories of Underdevelopment adalah hubungan antara pikiran seorang individu yang merepresentasikan keadaan di dunia luar, dalam hal ini, sebuah entitas politik bernama negara. Kesadaran dan pikiran individu adalah juga kesadaran dan pikiran kolektif. Namun tidak seperti Tarkovsky yang sepertinya ingin mengobrak-abrik pikiran penontonnya dengan narasi arus kesadaran yang membutuhkan pembacaan mendalam, Alea menarasikannya dengan halus, disertai cuplikan-cuplikan dokumenter dan foto yang terekam pada masa itu yang membuat film ini sangat ‘kaya’ dan inovatif.

5/10/2013

4 Enter the Void (2009)


Sutradara: Gaspar Noe
Pemain: Nathaniel Brown, Paz de la Huerta, Cyril Roy

Setelah berhasil membuat syok para penikmat film melalui kekerasan yang ekstrim dan adegan pemerkosaan yang berlangsung sangat lama yang menjadi sajian utama dalam Irreversible, sepertinya belum cukup memuaskan ambisi Gaspar Noe. Dia sepertinya ingin melanjutkan hentakan mengejutkan itu lewat Enter the Void, sebuah karya ambisius yang berusaha menerobos batas film sebagai medium bagi kreatifitas: menyajikan film sebagai sebuah pengalaman visual yang tak terlupakan. Begitulah. Dengan pengambilan gambar yang seolah ingin menempatkan penonton dalam posisi seorang pecandu dan pengedar narkoba bernama Oscar, Enter the Void mencoba mengantar penonton – melalui distorsi ruang dan waktu, gemerlap permainan cahaya, persepsi dan halusinasi – mengarungi sebuah pengalaman yang berakar dari pertanyaan menggelitik tentang eksistensi manusia: seperti apakah keadaan paska kematian itu?

Meskipun terdapat poin-poin yang bisa membuat film terkesan menarik setidaknya dari segi aksi (pengedar narkoba, penari telanjang, bar mesum) jangan terlalu berharap pada ceritanya karena pada kenyataannya sangatlah sederhana. Oscar (Nathaniel Brown), seorang pecandu dan pengedar kelas teri, bersama adiknya Linda, seorang penari telanjang, tinggal dalam gemerlapnya dunia malam di Tokyo. Sebuah transaksi narkoba tak berlangsung lancar dan menyebabkan Oscar tertembak.

Ada ungkapan yang menyebut bahwa sesaat sebelum ajal menjemput, perjalanan hidup seseorang melintas dihadapannya. Setelah penembakan itu, sudut pandang kamera yang mewakili persepsi Oscar, dan juga penonton, berjalan-jalan tanpa mengenal batas ruang dan waktu, menyusuri jejak masa kecilnya, baik yang menyenangkan maupun yang traumatis, menelaah kejadian-kejadian sebelum terjadinya transaksi yang berakhir tragis dan melihat peristiwa yang terjadi setelah dirinya tertembak. Kurang jelas apakah rohnya yang melayang atau semua yang terjadi hanyalah bentukan dari pikirannya. Apapun itu, ini seperti perjalanan spiritual dari jiwa tanpa tubuh yang bisa jadi merupakan eksplorasi dari keadaan seseorang paska kematian. Dan ketika kamera menempatkan diri dalam sudut pandang roh Oscar (atau sesuatu semacam itu), kerja kamera benar-benar dimaksimalkan oleh Gaspar Noe. Mengambil sudut pandang seperti burung yang terbang melintasi kota dengan cepat, kemudian menerobos kabin pesawat, masuk ke dalam vagina seseorang yang sedang melakukan coitus, bahkan menerobos ke dalam pikiran seseorang. Sama sekali tak ada yang menghambatnya.

Berurusan dengan tema yang pelik tidak menjadikan Enter the Void dalam diskursus yang rumit, apalagi Noe menekankan film ini lebih ke aspek visualnya, terbukti dengan dialognya yang dangkal dan nyaris tak berisi. Durasinya yang lama dan banyaknya adegan-adegan yang bersifat repetitif, boleh jadi akan membuat penontonnya merasa lelah dan bosan. Perkecualian mungkin adegan kecelakaan yang diulang beberapa kali sehingga memunculkan kesan traumatis yang mendalam pada karakter tokohnya. Akting Paz de la Huerta yang monoton, jika tak mau dibilang sangat kurang meyakinkan, dan sepertinya hanya bersandar pada pakaiannya yang selalu kekurangan bahan, menjadi titik lemah bagi film ini. Meskipun begitu, usaha sang sutradara untuk selalu menyajikan pengalaman yang unik, kreatif dan berbeda dari yang lain, layak untuk diapresiasi. Seperti Irreversible, film ini juga akan menghasilkan opini penonton yang terbelah. Di satu sisi akan ada yang menyukainya setengah mati, di sisi lain akan ada yang merasakan kebosanan akut sampai-sampai dia berharap lebih baik mati saja daripada menyelesaikan menonton Enter the Void.

3/29/2013

0 Tales from the Golden Age (2009)


Judul asli: Amintiri din epoca de aur
Sutradara: Cristian Mungiu, Hanno Hofer, Constantine Popescu, Ioana Uricaru, Razvan Marculescu
Pemain: Alexandru Potocean, Avram Birau, Vlad Ivanov, Ion Sapdaru, Diana Cavallioti

Seekor babi meledak ketika hendak dimasak, pemalsuan foto yang gagal, dua remaja mengaku sebagai pegawai penguji polusi udara untuk mendapatkan botol bekas, seorang aktivis naif yang mencoba memberantas buta aksara, beberapa sketsa itu adalah bagian dari sebuah omnibus tentang keadaan masyarakat Rumania selama 15 tahun terakhir dalam cengkeraman rezim Nicola Ceausescu, yang oleh otoritas disebut sebagai era keemasan. Tales from the Golden Age merupakan rangkuman mitos-mitos urban yang diolah Cristian Mungiu bersama empat sutradara lain dan dikemas dalam bentuk komedi gelap. Film ini sedikit banyak mengikuti tema film Mungiu pemenang Palm d’Or 2007, 4 Months 3 Weeks and 2 Days, dengan mengedepankan absurditas kehidupan masyarakat dibawah pemerintahan otoriter.

Ada enam kisah, masing-masing disebut dengan istilah “legenda,” yang semua skenarionya ditulis oleh Mungiu: Legenda Kunjungan Resmi, Legenda Fotografer Partai, Legenda Seorang Aktivis Tekun (di sebagian rilis tidak dimasukkan), Legenda Polisi Tamak, Legenda Penjual Udara, dan Legenda Sopir Truk Ayam. Empat kisah pertama dikenal juga dengan Tales of Authority, sedang 2 yang terakhir sebagai Tales of Love.

Seperti tersirat dalam sub judulnya, empat kisah pertama yang durasinya lebih pendek, menitikberatkan pada bagaimana bentuk represi totalitarian itu masuk dan mempengaruhi tingkah laku masyarakatnya. Dalam bentuknya yang paling ekstrim dijumpai pada “Legenda Kunjungan Resmi.” Sebuah desa tengah mempersiapkan kunjungan tamu internasional dari berbagai negara. Dalam satu komando dari pusat, mereka memoles tampilan luar sedemikian rupa sampai ke rincian terkecil – burung merpati yang harus berwarna putih, arak-arakan domba dan bukan sapi (karena ada delegasi dari India), warna dari hiasan. Semua itu dilakukan semata demi pencitraan. Pencitraan dilakukan tak hanya untuk mengesankan dunia internasional, tetapi juga dilakukan terhadap masyarakatnya sendiri, seperti yang terlihat dalam “Legenda Fotografer Partai.” Namun sebuah kesalahan dalam memalsukan foto Ceausescu diikuti usaha untuk melestarikan pencitraan justru mengakibatkan munculnya mitos baru: untuk pertama kalinya surat kabar partai tak diterbitkan pada hari itu. Ironisnya, semua pencitraan itu dilakukan untuk menutupi kebohongan. Dalam realitasnya, bahkan untuk sekedar mendapatkan barang kebutuhan pokok – daging babi untuk menyambut Natal dan telur untuk Paskah – sangat sulit. Dan ketika seorang polisi mendapat kiriman babi hidup menjelang Natal, hal itu bukannya berkah tapi justru menjadi musibah.

Meskipun mampu mendeskripsikan dengan jernih bentuk represi dan paranoia yang terjadi di masyarakat, durasi pendek dari empat kisah anekdot tersebut membuat eksplorasi temanya menjadi kurang mendalam, dibandingkan dua kisah Tales of Love yang lebih sublim, terutama “Legenda Sopir Truk Ayam.” Kisah yang terakhir ini sepertinya bisa mewakili keseluruhan antologi ini. Bagaimana aturan sekecil apapun, apabila dilanggar, konsekuensinya sangat besar.

Hadir sebagai bagian dari perayaan 20 tahun kejatuhan rezim Ceausescu, Tales from the Golden Age sepertinya ingin mengenang masa-masa kelam tersebut dengan cara menertawakannya. Humor, lebih spesifik lagi adalah humor gelap, bisa jadi merupakan cara untuk melihat semua kesengsaraan di masa lalu tanpa merasa marah atau sedih, dan dengan begitu, hantu masa lalu itu akan tetap diingat dan dijadikan pelajaran kedepannya.

3/15/2013

2 The Sweet Hereafter (1997)


Sutradara: Atom Egoyan
Pemain: Ian Holm, Sarah Polley, Bruce Greenwood, Gabrielle Rose

Apa yang kita harapkan dapat diperoleh dari menonton sebuah film? Sebuah pertanyaan sederhana yang terkadang jawabannya lebih rumit dari yang dibayangkan. Film, yang baik tentu saja, bisa menyajikan banyak hal, pengalaman tentang kehidupan dan juga kematian, tentang harapan dan kecemasan, tentang psikologi manusia dan bagaimana mereka bereaksi secara emosional terhadap semestanya, dan lain sebagainya. Secara sederhana, sebuah film bisa menyajikan pengalaman yang mengayakan batin. Jika ini yang kita cari, The Sweet Hereafter, sebuah karya luar biasa dari sutradara Atom Egoyan yang diangkat berdasarkan novel Russel Banks, patut untuk dicermati.

Mengambil tempat di sebuah kota kecil di Kanada, dengan hamparan putih salju yang mendominasi lanskapnya dan langit kelabu yang menggantung di cakrawala, kita langsung dibawa menuju suasana terpencil dan, sedihnya, penuh kemuraman. Sebuah kecelakaan tragis baru saja terjadi. Kecelakaan itu merenggut nyawa hampir semua anak kecil di kota itu kecuali seorang, tapi korban sesungguhnya dari tragedi itu adalah mereka yang selamat dan para orangtua yang kehilangan. Ya, eksplorasi kedukaan orang-orang yang ditinggalkan adalah motif utama film ini. Bagaimana mengatasi kehilangan dan emosi yang muncul sebagai bentuk ekspresi kedukaan bermacam-macam. Ada yang menuangkannya dalam bentuk kemarahan, sebagian putus asa, sebagian lagi menyalahkan diri sendiri.

Adegan dibuka dengan sangat sublim. Sebuah keluarga – ayah, ibu dan bayi mereka – tertidur di lantai. Kamera melihat dari atas bentuk paling sederhana dari keintiman kehidupan privat itu, dan menempatkan penonton dalam kerangka sebagai seorang pengganggu. Tapi kemudian, sosok pengganggu itu diwujudkan dalam bentuk seorang pengacara, Mitchel Stephens (Ian Holm), yang datang ke kota itu untuk membujuk para orangtua agar mengajukan tuntutan hukum kepada pihak-pihak yang disinyalir, secara langsung maupun tidak, menyebabkan terjadinya kecelakaan itu. Pada awalnya terkesan dia adalah sosok yang dingin, dan semata datang sebagai seorang, katakanlah, pengambil keuntungan dari kemalangan orang lain. Meskipun di awal-awal disajikan percakapannya dengan putri satu-satunya yang bermasalah, barulah sepanjang film kita mengetahui bahwa uang bukanlah tujuan utamanya. Melalui sorot matanya, kita bisa tahu dilema yang dihadapinya, dan semacam perasaan kehilangan yang sama seperti yang dirasakan oleh para orangtua yang anak-anaknya meninggal dalam kecelakaan itu. Usaha untuk mengajukan tuntutan itu bisa dipandang sebagai sebuah “penebusan” atau, setidaknya, sebuah cara untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Kunci dari kasus ini adalah kesaksian korban yang selamat, si remaja Nicole Burnell, yang diperankan dengan sangat menawan oleh Sarah Polley. Kecelakaan itu tidak hanya merenggut kemampuannya berjalan tetapi juga masa depannya. Sebelum terjadinya kecelakaan, masa depan gemilang seperti sudah menantinya. Tapi dalam sekejap saja, tiba-tiba dia seolah kehilangan segalanya, termasuk “kasih sayang” ayahnya yang berlebihan. Kecewa dan putus asa, tapi apa yang bisa dilakukannya? Pada titik tertentu, dia akhirnya mengambil jalan seperti tokoh dongeng anak-anak dalam cerita yang pernah diceritakan olehnya sekaligus mengingkari janjinya sendiri untuk tak berkata bohong.

Dengan narasi yang disampaikan secara mozaik namun tak membingungkan (salah satu kelebihan film ini), Egoyan membawa kita mengarungi sisi psikologis manusia di tengah duka. Kita melihat bagaimana hancurnya perasaan Dolores, sang sopir bus, saat menyadari semua anak-anak itu bagaikan anak-anaknya sendiri yang tak dimilikinya. Atau bagaimana melanjutkan hidup setelah segala yang dimiliki menghilang. Bagi Nicole, melakukan sebuah aksi balas dendam yang manis, tapi sekaligus menyakitkan. Dan bagi Billy Ansel, yang kehilangan dua anak kembarnya, itu sama artinya dengan stagnasi, dan yang bisa dilakukannya hanyalah mempertahankan masa lalu. Baginya, masa depan itu sudah tak ada. Karena itu, tuntutan class action itu tak diperlukan dan sang pengacara dianggap sebagai seorang pengganggu saja. Jika tuntutan itu terealisasi, dia sadar bahwa relasi di antara masyarakat akan berubah. Tapi meskipun tuntutan itu gagal, kita semua tahu bahwa pada akhirnya perubahan itu tetap tak bisa dihindari.

2/07/2013

0 The World Is Big and Salvation Lurks Around the Corner (2008)



Judul asli: Svetat e golyam i spasenie debne otvsyakade
Sutradara: Stefan Komandarev
Pemain: Miki Manojlović, Carlo Ljubek, Hristo Mutafchiev, Ana Papadopulu

Tema pencarian identitas umum dijumpai dalam film-film perjalanan. Seseorang yang kehilangan ‘identitasnya’ melakukan perjalanan ke sebuah tempat, secara sadar ataupun tidak, demi mencari ‘sesuatu’ yang hilang dari dirinya. Seperti yang kita ketahui, perjalanan tersebut tidak semata-mata secara fisik, tetapi lebih menjurus pada perjalanan spiritual. Lewat pengalaman yang ditemui selama perjalanan itu, sang tokoh mendapatkan, katakan saja, kekayaan batin ataupun semacam pencerahan – sesuatu yang membuat dirinya bisa memaknai kembali kehidupannya. Sesederhana itu alur ceritanya.

Stefan Komandarev mengadopsi alur cerita tersebut dengan taat dalam “The World Is Big and Salvation Lurks Around the Corner.” Tokoh sentralnya adalah Sashko, seorang pemuda emigran asal Bulgaria yang tinggal di Jerman. Ya, begitulah. Emigran yang tinggal di tempat asing adalah kata kuncinya. Kita pun seakan mahfum jika persoalan siapa dan bagaimana menempatkan dirinya dalam perbedaan budaya menjadi kendala umum di kalangan emigran. Persoalan rumit dan kompleks yang tak akan selesai dibahas dalam beribu-ribu halaman buku. Tapi tenang saja, Komandarev sepertinya tak ingin membuat penontonnya mengerutkan dahi dan lebih memilih untuk menarasikan kisahnya dalam bentuk paling sederhana dan memikat.

Kisahnya dimulai dari kelahiran bayi Sashko di sebuah tempat di Balkan dimana “Eropa berakhir tapi tak pernah bermula.” Kisah selanjutnya melompat ke masa Sashko muda, bersama ayah ibunya bermobil menuju Bulgaria untuk pertama kalinya sejak beremigrasi. Tapi malangnya, mereka mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah ibunya. Sashko selamat dan berangsur-angsur pulih secara fisik tapi tidak dengan ingatannya. Mengetahui hal itu, kakeknya Bai Dan, seorang juara lokal permainan backgammon, mencoba membantunya memulihkan ingatan tentang masa lalunya sekaligus jati dirinya dengan mengajaknya bersepeda menuju tanah kelahirannya diselingi dengan permainan backgammon yang filosofis.

Dengan serangkaian kilas balik di sepanjang film, kisah Sashko kecil pun disampaikan untuk melengkapi keutuhan kisah hidup Sashko. Keluarganya – ayah, ibu, kakek, dan nenek – tinggal di Bulgaria di masa pemerintahan komunis yang mengekang kehidupan masyarakatnya. Kakeknya yang berwatak keras suatu kali menyindir pejabat partai yang berkuasa. Perbuatan itu secara tak langsung membuat keluarganya tersudut, dan memaksa ayah ibunya untuk bermigrasi, tentunya secara ilegal.

Satu hal menarik yang saya tangkap dari film ini mengenai dua perjalanan yang dilakukan oleh karakter Sashko, yang pertama ketika dia bermigrasi ke Jerman dan kemudian ketika dia bersama kakeknya bersepeda menuju Bulgaria. Melalui mata Sashko kecil kita diajak berjalan dari lingkup tradisional menuju kemegahan modernitas. Kemudian saat tersesat dalam modernitas, dalam kasus Sashko hal ini diwujudkan dalam bentuk amnesia, kita diajak untuk meninggalkan sejenak modernitas dan kembali menuju akar tradisinya. Inilah perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Sashko, menggali jati dirinya agar dia bisa mendefinisikan dirinya dalam dunia modern yang asing. Jati diri adalah pegangan manusia di tengah carut marutnya dunia modern.

Film yang diangkat berdasarkan novel semi biografis karya Ilija Trojanov ini mencoba menawarkan perspektif lain dalam kehidupan totalitarian menjelang keruntuhan rezim komunisme di Eropa Timur lewat kacamata sebuah keluarga kecil dan segala seluk beluk permasalahan yang dihadapi oleh mereka. Meskipun alur ceritanya sangat sederhana, mudah ditebak dan, dalam taraf tertentu, mendekati klise, tak mengurangi kenikmatan menyimak kisah yang berakhir bahagia ini. Banyaknya pesan-pesan moral maupun filosofis yang terselip dalam obrolan-obrolan ringan di sela-sela permainan backgammon disertai panorama pegunungan yang menawan di sepanjang perjalanan kedua tokohnya merupakan nilai tambah tersendiri bagi film ini.

1/04/2013

0 Prisoner of the Mountains (1996)


Judul asli: Kavkazskiy plennik
Sutradara: Sergei Bodrov
Pemain: Sergei Bodrov Jr., Oleg Menshikov,
Jemal Sikharulidze, Susanna Mekhralieva


Perang itu absurd. Perang itu sia-sia. Perang itu tak ada gunanya. Sentimen anti perang semacam itu sangat lazim ditemui dalam film-film anti-perang, yang biasanya mengupas persoalan mengenai tempat manusia dalam gejolak perang. Itulah yang disampaikan secara liris dan menggugah oleh Sergei Bodrov dalam Prisoner of the Mountains, yang mencoba menggambarkan absurditas perang dengan lebih seimbang dan lebih personal.

Film yang diangkat dari cerpen karya pujangga besar Rusia, Leo Tolstoy, ini berlatar konflik antara pemerintah Rusia dengan Chechnya. Sejak Tolstoy menulis cerpennya kurang lebih satu setengah abad yang lalu, situasi konflik tak banyak berubah, bahkan semakin memanas pada pertengahan tahun 1990-an. Pengambilan gambar film ini bahkan terjadi beberapa saat sebelum meletusnya pemberontakan Chechnya, dan lokasinya pun hanya berjarak beberapa km dari lokasi peperangan.

Menceritakan dua orang tentara Rusia, Sasha (Oleg Menshikov) dan Vanya (Sergei Bodrov Jr.), yang ditawan oleh seorang gerilyawan muslim, Abdul Murat (Jemal Sikharulidze). Gerilyawan muslim biasanya tak pernah mengambil tawanan perang, tetapi Abdul tak punya pilihan lain setelah putranya ditawan oleh pihak Rusia. Sasha dan Vanya hendak dijadikan sebagai alat barter bagi putranya.

Di tengah-tengah penantiannya sebagai tawanan perang, kedua tawanan tersebut, yang karakternya sangat berbeda, mulai menjalin persahabatan. Sasha adalah seorang veteran yang gila perang dan keras kepala. Dia bergabung dengan militer karena “dia bodoh, menyukai senjata dan membutuhkan uang.” Awalnya dia merasa terganggu dengan Vanya, seorang prajurit baru yang masih naif, belum pernah sekalipun menembakkan senjatanya, dan mengkhawatirkan nasibnya selama ditawan. Tapi pada akhirnya dia menjadi pembimbing dan pelindungnya.

Lamanya masa penahanan rupanya menjadi pengalaman baru bagi si hijau Vanya. Dari hasil pengamatan sehari-hari, dia mulai memahami kehidupan orang-orang pegunungan tersebut, dan juga menjalin pertemanan dengan putri bungsu Abdul, Dina (Susanna Mekhralieva). Dina adalah satu-satunya karakter yang memandang kedua tawanan tersebut sebagai manusia, bukan sebagai musuh. Melalui interaksi dua orang inilah kita disuguhi penilaian betapa perang sebagai justifikasi melakukan pembunuhan itu sangat tak masuk akal.

Sergei Bodrov menyampaikan pesan humanisme universal ini dalam bentuk sederhana, disertai gambaran lanskap pegunungan yang indah dan tenang – sebagai gambaran kontras terhadap riuh peperangan – dan juga dialog yang kental dengan humor ironis. Sebagai pengingat tentang absurditas perang, film ini bisa dibilang berhasil menyajikannya dengan ringan namun tanpa kehilangan bobotnya.


12/13/2012

1 Tiga Film Tentang Perang Balkan

Perang Balkan (1991-1995) bisa jadi merupakan salah satu perang paling kompleks, membingungkan dan berdampak paling menghancurkan dalam sejarah perang modern setelah Perang Dunia II. Dari segi politis, perang ini memunculkan kesatuan-kesatuan politik baru yang dibangun dari reruntuhan negara Yugoslavia. Dari segi kemanusiaan, muncul istilah baru yang dampaknya setara dengan holocaust pada Perang Dunia II, yaitu pembersihan etnis. Bagi manusia-manusia pasifis yang terjebak dalam kondisi carut-marut tersebut, perang ini merupakan sebuah kejadian yang absurd. Begitulah setidaknya yang saya tangkap dari film-film tentang Perang Balkan karya sineas negeri itu; Underground (1995) karya Emir Kusturica, Pretty Village Pretty Flame (1996) karya Srdjan Dragojevic, dan No Man’s Land (2001) karya Denis Tanovic.

“Pada suatu masa, ada sebuah negara, dan ibukotanya adalah Belgrade.” Begitulah narasi awal Kusturica untuk membawa kita menuju kisah penghancuran diri sebuah negara oleh orang-orang negara itu sendiri. Menelusuri jejak Yugoslavia selama kurang lebih lima puluh tahun, kita akan mendapati bagaimana reaksi penduduknya menanggapi peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di sekitar mereka serta bagaimana mereka berjuang untuk kejayaan negara itu dan, ironisnya, kemudian menghancurkannya dengan tangan-tangan mereka sendiri.

Underground mengikuti perjalanan sepasang sahabat, Blacky dan Marko, mulai dari invasi Reich-nya Hittler, era perang dingin, sampai perang saudara pada awal dekade 1990-an. Film yang dibawakan dalam nuansa humor surealis ini menyorot sepak terjang masing-masing karakter dan bagaimana mereka berinteraksi dengan keadaan sekitar. Blacky yang idealis dan romantis, tak pernah bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus tunduk pada kekuasaan asing. Dia berjuang dengan berbagai cara untuk memastikan bahwa kedaulatan negaranya tetap terjaga. Pada sebuah kesempatan, dia sangat tersudut sehingga memaksanya mengungsi ke bawah tanah. Hal ini berbanding terbalik dengan Marko yang lebih dinamis dan oportunis, meskipun keduanya sama-sama berjuang untuk tanah airnya. Kemudian sampailah pada adegan yang absurd, Marko mengelabui Blacky agar tetap tinggal di bawah tanah dengan alasan perang masih berlangsung. Padahal sebenarnya perang sudah lama usai, dan Marko, yang kini menempati posisi penting dalam birokrasi Yugoslavia dibawah pemerintahan Tito, memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Tinggalnya Blacky di bawah tanah ini semacam simbol pengawetan idealisme dalam diri Blacky yang tak terkontaminasi oleh pengaruh luar. Dan ketika Blacky keluar, kita melihat bagaimana ketidakmampuan untuk menafsirkan keadaan bisa berakibat sangat fatal.

Menempatkan dua sosok individu dalam situasi perang, yang awalnya bersahabat kemudian saling beroposisi, bukanlah tema baru, bahkan sangat lazim digunakan untuk menggambarkan absurditas dari perang dalam mempengaruhi nilai-nilai kemanusiaan, dalam hal ini hubungan antar individu yang tersisihkan oleh apa yang disebut nasionalisme, patriotisme, dan sebagainya. Kusturica mengakhiri filmnya dengan narasi “tak ada yang namanya perang sampai seseorang membunuh saudaranya sendiri.” Dan dalam Pretty Village Pretty Flame, Srdjan Dragojevic mencoba menekankan dampak perang ini melalui tokoh Milan dan Halil.


 
Milan yang seorang Serbia dan Halil yang seorang muslim Bosnia merupakan sahabat semasa kecil. Di dekat desa mereka terdapat terowongan yang menurut dongeng lokal merupakan tempat tinggal monster yang jika dibangunkan akan “memangsa orang-orang desa dan membakar rumahnya.” Ketika mereka berdua memberanikan diri untuk melihat ke dalam terowongan tersebut, mereka menemukan tumpukan mayat dan juga, yang mengejutkan, mayat mereka sendiri. Ini semacam tanda bahwa, entah bagaimana caranya, mereka akan selalu memiliki keterikatan dengan terowongan itu. Dan memang itulah yang terjadi, setelah dewasa keduanya bertemu kembali di terowongan tersebut, kali ini berada di kubu yang saling berlawanan. Milan merupakan bagian dari pasukan milisi Serbia yang bertugas menghancurkan desa-desa orang Bosnia. Suatu malam mereka disergap oleh pasukan Bosnia yang membuat kesatuan Milan tersudut dan berlindung di dalam terowongan. Halil ada di dalam kesatuan pasukan Bosnia yang mengepung Milan dan rekan-rekannya. Dan kisahnya berlanjut dengan serangkaian kilas balik yang mengulas latar belakang masing-masing tokoh yang terjebak di dalam terowongan itu.
Meskipun film ini bisa dibilang berhasil dengan baik menggambarkan konflik Balkan setidaknya dari sisi Serbia, banyak kritik menyebutnya sebagai penyangkalan Serbia atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Perang Balkan. Dan dalam beberapa tingkat, saya sendiri menilai ada beberapa poin yang disampaikan secara tidak berimbang. Karakter Milan, entah sengaja atau tidak, seolah-olah digambarkan sebagai pahlawan yang tak berdaya, dan tindakannya semata karena dorongan naluriah yang muncul dari kekacauan perang. Di sisi lain, pihak Bosnia tak mendapat porsi yang cukup dan hanya digambarkan sisi brutalnya saja. Setidaknya, hal inilah yang mendasari Denis Tanovic untuk menggambarkan situasi perang dengan lebih berimbang dalam No Man’s Land.


No Man’s Land membawa absurditas perang dalam bentuknya yang paling personal: interaksi dua individu berlawanan yang terperangkap di tanah tak bertuan. Terkadang lucu, tapi lebih kental nuansa ironinya. Itulah yang terjadi antara Ciki, seorang milisi Bosnia, dengan Nino, seorang prajurit Serbia. Di tengah penantiannya, yang terkesan sia-sia, mereka berdebat tentang siapa yang memulai perang dan menghancurkan negeri yang indah itu. Jika dalam keadaan normal, bisa jadi mereka akan berteman, saling mengirimi kartu ucapan selamat tahun baru, dan hal-hal yang biasa dijalani oleh dua sosok manusia yang tak terlibat perang. Tapi pada kenyataannya, buat apa berkenalan jika ke depannya mereka akan saling membidikkan senapan. Meskipun di masa lalu mereka pernah mengencani perempuan yang sama, kini mereka harus saling membunuh untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

Selain itu Tanovic juga mengkritisi entitas PBB dan keterlibatannya dalam konflik Balkan. Kita melihat bagaimana pasukan perdamaian PBB yang, dengan kapasitas dan dukungannya, seharusnya bisa menghentikan perang sia-sia ini, justru lebih memilih bersikap pasif dan menjadi pengamat saja. Bagaimana tragedi kemanusiaan ini bisa dengan mudahnya disingkirkan oleh omong kosong birokratis dan dagelan politik tingkat tinggi jika menyangkut orang-orang tak dikenal. Sungguh aneh sekaligus ironis bagaimana posisi manusia dilihat dari kacamata politis ini.

Dampak konflik Balkan bagi penduduk di wilayah itu sangat menghancurkan, baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Adegan penutup dari Underground, ketika masing-masing tokoh berkumpul dan berpesta di sebuah tanah yang perlahan memisahkan diri dari daratan utama, bisa jadi melambangkan keinginan penduduk setempat untuk tak lagi mengalami mimpi buruk itu dan hidup berdampingan dengan damai.

11/05/2012

3 The Man Without a Past (2002)


Judul asli: Mies Vailla Menneisyytta
Sutradara: Aki Kaurismaki
Pemain: Markku Peltola, Kati Outinen

Bagaimana seseorang menjalani hidup tanpa ingatan tentang masa lalunya? Tema semacam itu sering kita jumpai dalam film-film misteri dan psychological thriller, yang biasanya mengedepankan pencarian identitas yang hilang dan merupakan kunci dari seluruh film tersebut. Tapi dalam drama romantis karya Aki Kaurismaki, The Man Without a Past, hilangnya ingatan justru dijadikan sebagai titik tolak untuk memulai hidup baru. Jangan salah sangka, meskipun permulaannya mengejutkan, film ini lebih bernuansa drama-komedi romantis dan sama sekali tak ada unsur misteri didalamnya.

Kisah dimulai ketika tokoh utamanya (Markku Peltola) tiba di Helsinki dan menjadi korban perampokan dan penganiayaan hingga dia nyaris mati. Meskipun sudah dinyatakan meninggal oleh dokter, entah bagaimana dia bangkit dan berjalan, tanpa arah, tujuan, maupun alasan tertentu. Terlebih lagi dia tak ingat siapa dan darimana asalnya. Dia sampai di pemukiman kaum gelandangan yang tinggal di kontainer bekas, dan disanalah kisahnya berlangsung. Dalam suasana yang serba terbatas, kita akan disuguhi perjuangan untuk menata hidup, empati yang terjalin antar sesama gelandangan, bagaimana sulitnya hidup di dunia modern ini tanpa sebuah identitas, dan diatas segalanya, sebuah kisah cinta yang unik. Lewat sosok Irma (Kati Outinen), seorang pekerja sosial yang membantu para gelandangan, dia tidak sekedar mendapatkan dorongan material dan spiritual untuk memulai hidupnya kembali, tetapi juga cinta yang, seingatnya, tak pernah didapatkannya.

Dalam pengambilan gambar yang nyaris statis, kita akan mendapatkan kisah yang mengalir dengan dialog yang minimalis dan terkesan humoris. Berkali-kali saya tersenyum mendengar percakapan antar tokohnya yang ringan namun mengena. Bagaimana deskripsi anjing yang galak itu tak seperti kenyataannya, atau jawaban tukang listrik saat ditanya berapa biaya pemasangan listriknya adalah bagian-bagian komikal dari film ini. Dan mencapai puncak humornya pada perdebatan hukum antara petugas polisi dengan seorang pengacara. Selain suguhan humor, ada juga nuansa tragis didalamnya. Seperti saat si tokoh hendak mencari kerja, tapi dia harus mengisi lamaran yang mengharuskannya mencantumkan nama dan seluruh identitasnya. Juga gambaran tentang bagaimana sikap orang-orang yang tak bisa mempercayai kenyataan bahwa dia kehilangan ingatannya. Lucu sekaligus trenyuh mendengarnya.

Wajah datar dan nyaris tanpa ekspresi yang diperlihatkan Markku Peltola sepanjang film benar-benar menggambarkan orang yang tak punya masa lalu. Kita tak pernah tahu apa perasaan yang bergejolak dibalik wajah seperti itu. Wajah itu tak pernah mengungkapkan kebahagiaan, jikalau ada, maupun kesedihan secara berlebihan. Tetapi entah bagaimana, saya melihat ada bayang-bayang sendu yang tak diinginkannya terbawa dari masa lalunya di wajah itu. Itulah kenapa, hilangnya ingatan tentang masa lalunya merupakan tonggak baginya untuk memulai hidup baru. Tanpa adanya kenangan yang mengikatnya, dia seperti terlahir kembali.

Pada akhirnya kita akan disuguhi panorama kehidupan manusia dengan berbagai persoalannya, bagaimana memposisikan diri dalam dunia yang asing, dan bagaimana memaknai kebahagiaan dalam bentuknya yang paling sederhana. The Man Without a Past bisa dikatakan sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Aki Kaurismaki.

11/03/2012

14 No Country for Old Men (2007)


Sutradara: Joel Coen dan Ethan Coen
Pemain: Javier Bardem, Tommy Lee Jones, Josh Brolin


Kritikus film Roger Ebert suatu kali pernah berkata, ”Baik buruknya sebuah film bisa dilihat dari karakter tokoh jahatnya.” Meskipun banyak dari pilihan film yang dipujinya kurang sesuai dengan selera saya pribadi, mau tak mau saya menyetujui pernyataannya itu terkait dengan karya paling prestisius dari Coen bersaudara, No Country for Old Men. Melihat film ini tentunya tak bisa mengesampingkan karakter sosiopat berpotongan rambut lucu bernama Anton Chigurh. Dialah tokoh jahat sekaligus ‘roh’ film ini.

Berawal dari sebuah transaksi narkoba yang berjalan kacau, dimulailah perjalanan takdir yang menentukan nasib tiga tokoh utamanya. Llewelyn Moss (Josh Brolin), seorang veteran perang Vietnam, menemukan uang haram transaksi tersebut dan, seperti sudah menjadi naluri dasar setiap manusia yang dihadapkan pada pilihan yang terlihat menguntungkan, mengambilnya. Si pemilik uang kemudian mengirimkan Anton Chigurh (Javier Bardem) untuk mendapatkannya kembali. Menyadari sesuatu yang buruk sedang dan akan terjadi, seorang sheriff tua bernama Tom Bell (Tommy Lee Jones) melacak keduanya dengan harapan untuk menyelamatkan Moss dari ancaman Chigurh. Dan akhirnya kita disuguhi sebuah adegan perburuan yang unik. Mereka bertiga saling berhubungan, akan tetapi, kecuali adegan dimana Moss dan Chigurh saling baku tembak, ketiganya tak pernah berada dalam satu ruang, waktu dan frame secara bersamaan.

Kisah No Country for Old Men mengambil latar di daerah Texas tahun 1980-an. Membayangkan daerah barat Amerika, daerah yang menampilkan kesan seperti wilayah pinggiran yang terlupakan dari sebuah peradaban, yang gersang dan tandus, tak bisa dilepaskan dari nuansa kekerasan dan hukum alam dimana yang kuatlah yang bisa selamat. Bisa jadi karena itulah daerah barat Amerika menjadi sumber inspirasi film-film koboi, disana hukum dan keadilan disuarakan dengan moncong sebuah senapan.

Dalam film-film bergenre western, kita sering melihat pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, dimana biasanya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Meskipun film ini bisa dikategorikan dalam genre serupa, No Country for Old Men tidak terjerumus dalam stereotip semacam itu. Bahkan bisa dibilang karakternya tak bisa dilihat secara hitam putih, meskipun dari standar moral apapun, kita tahu siapa tangan kanan kejahatan di film ini. Tapi dimana orang baiknya?

Dilihat dari perspektif moral, agama, maupun hukum, Chigurh adalah orang jahat. Tapi meskipun dia seorang pembunuh, dia tak melakukannya dengan membabi buta. Dia punya prinsip. Bukan dia yang menentukan apakah orang yang ditemuinya itu dibunuh atau tidak, tapi takdir yang dipilih orang itu berdasarkan lemparan koin. Seorang pembunuh yang punya standar kode etiknya sendiri, membunuh tanpa belas kasih tapi tetap menjaga dirinya supaya tak ternodai darah korbannya. Dia adalah semacam representasi biblikal dari malaikat maut, kemanapun dia melangkah selalu membawa bayang-bayang kematian. Dan saat dia melanggar prinsip itu dengan membunuh istri Moss, dia mendapat hukumannya.

Karakter Moss sedikit membingungkan. Memang dia ambisius, keras kepala, dan tamak, tapi dia juga mencemaskan keselamatan istrinya. Dia juga sempat kembali ke tempat kejadian transaksi dengan membawa minuman, tapi itu hanya untuk sekedar mengobati rasa bersalahnya. Sebagai seorang alumni perang, dia mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Ketika menemukan mayat-mayat bergelimpangan, dia punya pilihan. Dengan berbekal rasa percaya diri bahwa dia bisa mengatasi resiko yang akan muncul, dia memutuskan untuk mencari uangnya. Pilihan yang mengubahnya dari seorang pemburu menjadi yang diburu.

Sebagai seorang sheriff, Tom Bell bukan karakter yang ideal. Alih-alih sebagai penegak hukum yang berkeinginan menangkap penjahat dengan sekuat tenaga, dia seolah terlihat tak mau berurusan langsung dengan Chigurh karena, seperti yang dia katakan di awal, “tak mau ambil bagian dari sesuatu yang tak dipahami.” Itulah yang membuatnya selalu tertinggal selangkah dibanding dengan Chigurh maupun Moss. Tom Bell adalah si Orang Tua dalam film ini. Dia mencoba mendefinisikan tempatnya di dunia yang tak lagi mampu dia pahami karakteristiknya. Tak seperti deputinya yang selalu waspada, dia berkali-kali terlihat memasuki tempat kejahatan berlangsung tanpa menyiapkan senjatanya karena dia merasa bahwa hal itu tak perlu. Di masanya, hal itu mungkin tak perlu. Tetapi ketika pada akhirnya dia menyadarinya, saat mendatangi lokasi terbunuhnya Moss, itu sudah terlambat. Ini bukan masanya lagi. Tak ada lagi tempat bagi orang tua dalam dunia yang brutal semacam itu.

Sekali lagi, Coen bersaudara mengangkat kembali tema yang sukses mereka sampaikan lewat Fargo kedalam film ini. Pesimisme dalam diri Tom Bell dan nihilisme yang dibawa Anton Chigurh diturunkan langsung dari novel Cormac McCarthy yang menjadi sumber film ini. Ditambah lagi kehendak bebas dan jalannya takdir menjadi bagian dominan di sepanjang film. Seperti yang terjadi pada Moss saat dia mendatangi lokasi transaksi obat bius. Dia punya pilihan yang harus dihadapi, dia menimbang konsekuensinya, dan memilih, sayangnya, yang terburuk. Dia sadar mengenai apa yang akan dihadapi dengan pilihannya itu, tetapi dia menganggap bisa mengatasi ancaman iblis yang ada di balik itu. Dia terbukti salah dengan anggapan itu. Menyangkut temanya, tak ada yang lebih jelas menggambarkannya dibandingkan dengan adegan-adegan awal ketika seorang deputi menangkap Chigurh. Dia menelepon atasannya dan mengatakan bahwa semuanya bisa dikendalikan. Tapi beberapa saat kemudian dia mati. Sesingkat itu. Keadaan yang terlihat bisa ditangani, ternyata berjalan di luar kendali.

Sebagian penonton No Country for Old Men ada yang pulang dengan membawa kekecewaan. Dua hal yang paling disorot adalah adegan penutup yang dianggap antiklimaks dan tak adanya pesan moral didalamnya. Saya mendengarnya sendiri ketika seorang teman bertanya pada saya apa yang bisa didapat dari menonton film ini. Saya menjawabnya, dengan setengah bercanda, bahwa jika dia menginginkan pesan moral dan sebagainya, pergi saja ke khotbah Jumat. Lewat film ini, Coen bersaudara sepertinya memang tak ingin menguliahi kita dengan pesan moral atau apalah, bahwa kejahatan itu buruk dan pada akhirnya kebaikan pasti menang dan sebagainya. Justru mereka mengajak kita sebagai penonton untuk berpikir bagaimana jika dunia yang dicitrakan dalam film itu masuk kedalam realitas kita sehari-hari. Kita melihat reaksi si Orang Tua terhadap keadaan itu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan seperti Tom Bell? Atau sebaliknya? Atau apa? Itulah kenapa, menurut saya, alih-alih memberi jawaban akhir, adegan penutupnya memang sengaja dibiarkan mengambang karena mereka ingin kita berpikir. Pilihan itu ada pada kita.

11/01/2012

0 Shadowlands (1993)


Sutradara: Richard Attenborough
Pemain: Anthony Hopkins, Debra Winger

Shadowlands adalah sebuah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata mengenai hubungan asmara C. S. ‘Jack’ Lewis, penulis Narnian Chronicles, dengan Joy Gresham, seorang penyair Amerika. Berlatar di Oxford, Inggris pada tahun 1950-an, film ini mengeksplorasi tema kesedihan dan kehilangan dengan sangat mendalam.

Selama bertahun-tahun, Jack (Anthony Hopkins) menjalani hidup dengan pola yang sama. Dia adalah seorang pengajar di Oxford dan seorang penulis yang hidup tenang bersama saudaranya. Berkat karyanya, Narnia dan beberapa buku tentang teologi, dia disegani oleh sesama kolega di Oxford dan menuai popularitas dari para pengagum di seluruh dunia. Namun semuanya berubah ketika dia bertemu seorang pengagum dari Amerika, Joy Gresham (Debra Winger).

Disinilah drama sesungguhnya berlangsung. Seorang perempuan Amerika yang ‘tidak cuma memiliki jiwa tetapi juga otak’ masuk kedalam lingkaran intelektual Oxford yang didominasi dan memuja kecemerlangan kaum pria. Akan tetapi gangguan ala Amerika itu bukan intinya. Perlahan-lahan, Jack yang kaku dan dingin – mengingatkan saya pada karakter James Stevens dalam Remains of the Day yang juga diperankan secara brilian oleh Hopkins – menaruh simpati pada Joy. Mereka kemudian menikah, pertama secara teknis, untuk membantu Joy memperoleh ijin tinggal di Inggris, dan yang kedua, setelah Joy menderita kanker dan Jack harus merawatnya, benar-benar menikah secara agama karena mereka berdua adalah penganut yang taat. Mereka saling mendalami perasaan kasih itu untuk sesaat, sebelum akhirnya Joy meninggal dunia. Di titik ini, Jack yang sering memberikan ceramah tentang cinta, kesedihan dan takdir manusia di tangan Tuhan, diuji oleh teorinya sendiri tentang apa itu kehilangan dan kesedihan.

Sebuah film yang diangkat berdasarkan kejadian nyata, apapun kejadian nyata itu, merupakan subjek yang akan diinterpretasi, dan juga mis-interpretasi, oleh para pengamat atau seseorang yang mengetahui kejadian itu, berdasarkan perspektifnya sendiri. Tafsiran akan kejadian nyata itu bisa menjadi perdebatan yang tak berkesudahan, apalagi jika menyangkut seorang figur terkenal seperti C. S. Lewis. Bagi pengagum Lewis, ketiadaan karakter J. R. R. Tolkien, sosok terkenal lain yang juga sahabatnya, merupakan dosa terbesar film ini. Itu seperti memfilmkan Don Quixote tanpa menyertakan Sancho Panza. Tak bisa dimaafkan, apapun apologinya.

Terlepas dari itu, menyajikan kisah kehidupan seorang sosok terkenal hanya dalam waktu sekitar 2 jam – rata-rata durasi film, merupakan hal yang sulit. Saya pribadi dapat memaklumi alasan Richard Attenborough yang hanya fokus pada aspek romansa antara Lewis dengan Gresham saja. Meskipun tak lengkap, hal itu menurut saya tak mengurangi kualitas film ini sebagai sebuah gambaran kehidupan tahap akhir dari seorang C. S. Lewis. Secara keseluruhan, Attenborough, yang sepertinya mengkhususkan dirinya pada pembuatan film biografi (Gandhi, misalnya), berhasil membuat film ini sangat menyentuh. Dialog yang kaya dan padat, serta penampilan mengagumkan dari Anthony Hopkins dan Debra Winger membuat film ini sangat layak untuk dinikmati.

10/30/2012

1 Barton Fink (1991)


Sutradara: Joel Coen dan Ethan Coen
Pemain: John Turturo, John Goodman, Michael Lerner, Judy Davis, Jon Polito


Ketika mendengar film tentang kebuntuan seorang penulis, bayangan saya langsung tertuju pada salah satu karya agung Federico Fellini, 8 ½. Dan memang betul, dalam banyak hal Barton Fink memiliki hubungan pararel dengan masterpiece Fellini tersebut. Keduanya menyangkut kebuntuan berkarya, kedua tokohnya terkait dengan dunia film, keduanya sama-sama surealis, meski nuansa tersebut lebih kental dalam 8 ½.

Barton Fink adalah sebuah film ambisius karya dua bersaudara, Joel dan Ethan Coen – salah satu dari sedikit sutradara Hollywood yang sampai saat ini belum pernah mengecewakan saya. Film ini bisa dibaca sebagai satir perfilman Hollywood, sebagai petualangan alam kesadaran seorang penulis dan pergulatan idenya, sebagai gambaran oposisi antara seni tingkat tinggi (Broadway) dengan seni kacangan (Hollywood), maupun sebagai tafsiran modern dari tragedi Faustian.

Barton Fink (John Turturo), seorang penulis sandiwara proletarian, menghadapi dilema setelah sebuah sandiwaranya yang tampil di Broadway menuai sukses besar. Dia ditawari untuk bekerja di industri film Hollywood, yang tentu saja menawarkan kemewahan dan kenyamanan hidup. Tetapi dia tahu konsekuensi dari tawaran itu bertentangan dengan idealisme kirinya tentang penciptaan teater ‘dari, oleh dan untuk orang-orang biasa’. Pada tahun-tahun sebelum dan sesudah Perang Dunia II, pencitraan Hollywood sebagai ‘tempat menjual jiwa’ lazim ditemui di kalangan penulis. Sebagai contoh pandangan Holden Caulfield tentang kakaknya yang dianggap sedang melacurkan dirinya di Hollywood dalam novel J. D. Salinger yang fenomenal, The Catcher in the Rye. Meskipun hal itu bertentangan dengan idealismenya, Barton menerima tawaran itu dan mencoba untuk mendamaikan pikirannya dengan cara memilih menginap di Hotel Earle yang kumuh dan ‘kurang bernuansa Hollywood’.

Dengan masih berbekal gagasan-gagasannya yang naif, Barton mencoba, meskipun pada akhirnya gagal, menyelam kedalam dunia hingar bingar Hollywood. Dia bertemu beberapa karakter yang bisa jadi merepresentasikan kehidupan perfilman pada masa itu. Bos Capitol Pictures Jack Lipnick (Michael Lerner), seorang bedebah yang akan menjilat kaki siapapun yang bisa menghasilkan uang banyak bagi perusahaan filmnya. Lou Breeze (Jon Polito), seorang cecunguk yang hanya bisa menyetujui pernyataan atasannya. W. P Mayhew (John Mahoney), yang mengingatkan pada sosok William Faulkner sebatas tampilannya saja, seorang penulis pemabuk yang, setelah pindah ke Hollywood, tak bisa menulis lagi. Audrey Taylor (Judy Davis), sekretaris pribadi Mayhew merangkap teman tidurnya. Darinya Barton mengetahui rahasia tergelap Mayhew. Dan diatas semuanya, Charlie Meadows (John Goodman) yang merupakan tetangga kamarnya di Earle.

Charlie si sales asuransi adalah subjek dari gagasan Barton, orang-orang biasa. Kisah hidupnya sebetulnya bisa jadi sumber inspirasi bagi Barton yang sedang mengalami kebuntuan menulis. Tapi disinilah ironinya. Meskipun Barton mengakui bahwa kehidupan yang dijalani Charlie adalah ‘teater sesungguhnya’, dia mengabaikannya. Barton seolah tinggal di menara gading gagasan sendirinya dan secara tak sadar menolak untuk ambil bagian dari kehidupan orang biasa. Alih-alih mendengarkan ceritanya, Barton justru mengambil jarak dari subjek gagasannya dan sibuk bermasturbasi dengan pikirannya sendiri.

Hotel Earle yang rongsokan – kertas pelapis dindingnya yang terkelupas, pajangan pohon pisang yang setengah membusuk, gema bel yang tak berkesudahan, operator lift yang sepertinya berumur lebih tua daripada Methuselah – merupakan tempat terbuang atau bisa jadi malah neraka itu sendiri. Inilah ruang isolasi bagi Barton, baik dari pengaruh Hollywood maupun dari realitas kehidupan itu sendiri. Satu-satunya yang menarik perhatian Barton di kamarnya adalah sebuah lukisan yang memperlihatkan sesosok perempuan yang sedang berjemur di pantai. Dan ketika gambaran itu direplika di akhir film, mau tak mau penonton pun digiring untuk mempertanyakan batas antara realitas dan imajinasi.

Coen bersaudara, Joel yang lulusan New York University jurusan film dan Ethan yang sarjana filsafat dari Princeton, mampu menampilkan lapis-lapis gagasan yang padat dengan cerita yang mengalir dalam film ini. Selain itu akting Turturo dan Goodman – karakter Charlie memang diciptakan untuknya karena pembawaannya yang bersahabat – juga tak kalah bagusnya. Tak heran jika dalam perhelatan Cannes Film Festival 1991 film ini mendapatkan Palm d’Or.
YEW9HQATWCJ5

10/29/2012

2 Head-On (2004)


Judul asli: Gegen die Wand
Sutradara: Fatih Akin
Pemain: Birol Unel, Sibel Kekilli, Cem Akin, Catrin Striebeck

Ini adalah kisah cinta. Dalam film kategori semacam ini, kisahnya selalu sama: dua sosok manusia bertemu, mereka saling tertarik, ada ujian yang memisahkan mereka, dan pada akhirnya mereka bersatu, untuk selamanya atau hanya sekejap saja. Head-On memasukkan semua unsur tersebut, tetapi dengan cara aneh, unik dan menyesakkan. “Kita hanya dapat mencintai dan dicintai hanya dalam kesedihan,” begitulah anggapan Dostoyevsky tentang cinta, yang sepertinya tepat sekali diterapkan dalam film ini.

Head-On dibuka dengan adegan yang mencolok mata. Sesosok karakter yang tampilannya acak-acakan, mabuk-mabukan dan berkelahi dengan orang lain kemudian mengemudi gila-gilaan dan menghantamkan mobilnya ke sebidang tembok. Untungnya, atau justru malangnya, tokoh itu tidak mati. Dialah Cahit (Birol Unel), tokoh utama film ini, yang akibat perbuatannya itu membuatnya harus dirawat di klinik terapi kejiwaan. Di klinik itu juga dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang usianya jauh dibawahnya, namanya Sibel (Sibel Kekilli).

“Apakah kamu orang Turki? Maukah kamu menikahiku?” Jika dalam keadaan normal – dua orang yang telah lama memadu kasih, pertanyaan itu akan terasa biasa meskipun efeknya bisa jadi luar biasa. Tapi dalam kasus Cahit, pertanyaan Sibel itu sangat mengejutkan, tidak saja karena mereka baru pertama kali bertemu, tetapi juga karena mereka berdua sedang menjalani perawatan akibat usaha bunuh diri yang gagal. Sosok Cahit yang destruktif dianggap sebagai penyelamat bagi Sibel yang merasa terkekang dengan keluarganya yang konservatif, semata-mata karena dia seorang imigran Turki di Jerman.

Mereka berdua sama-sama berdarah Turki, sama-sama putus asa dengan hidup mereka, namun mereka akhirnya menikah. Keduanya bukan pasangan ideal dan pernikahan itu sendiri jauh dari ideal. Mereka tinggal satu atap tapi menjalani kehidupan pribadi, termasuk seks, sendiri-sendiri, hal yang memang disepakati bersama sejak awal. Cahit memenuhi kebutuhan seksnya dengan seorang penata rambut (Catrin Striebeck) sedangkan Sibel dengan beberapa lelaki yang ditemuinya di klub malam. Meskipun begitu, keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Cahit membutuhkan Sibel semata hanya untuk merapikan kamarnya sementara Sibel membutuhkan Cahit untuk lepas dari kungkungan keluarganya. Jadi pernikahan itu sendiri hanya berfungsi sebagai sarana mereka untuk keluar dari permasalahannya masing-masing. Tak lebih dari itu. Akan tetapi, kita semua tahu kondisi-kondisi semacam itu akan mengarah kemana.

Setelah mengalami proses pemahaman diri yang singkat, mereka akhirnya benar-benar jatuh cinta, hanya untuk menemui jurang takdir yang akan memisahkan mereka. Sepertinya klise tapi itu bukan sebuah hal yang bisa dihindari. Cahit dipenjara karena membunuh orang yang melecehkan Sibel. Sibel sendiri harus lari ke Istanbul karena dia dibuang keluarganya yang merasa reputasinya rusak setelah kasus itu terungkap di media massa.

Pada akhirnya, Cahit menyusul Sibel setelah dia keluar dari penjara. Mereka bertemu, akan tetapi sesuatu telah terjadi. Alih-alih mengakhirinya dengan memenuhi harapan penonton kebanyakan, yang menurut saya akan membuat film ini sama dengan film picisan serupa ala Hollywood, Fatih Akin memilih akhir yang lebih realistis dan logis, meskipun menyakitkan.

Seperti film-film Fatih Akin lainnya, misalnya The Edge of Heaven dan Im Juli, kehidupan imigran Turki di Jerman dan segala persoalannya menjadi tema yang dominan. Membahas kehidupan imigran tentunya perbedaan budaya menjadi sebuah hal yang tak bisa dihindari. Karakter Cahit, meskipun dia lahir di Turki, yang seperti kehilangan akarnya – bahasa Turkinya yang kacau balau, dan pikiran terbuka Sibel yang mendambakan kehidupan bebas sebagai bentuk perlawanan terhadap keluarganya merupakan penggalan-penggalan dari persoalan identitas individu dan relasinya dengan kehidupan masyarakat yang punya budaya berbeda. Sebagai sepasang imigran yang tinggal di Jerman, keduanya berjuang dan tersudut dalam situasi yang tak menyenangkan. Perjalanan ke Istanbul, yang juga lazim ditemui dalam film-film Fatih Akin yang lain, hanyalah satu-satunya jalan bagi mereka untuk keluar dari kekusutan itu. Sekali lagi Fatih Akin, yang tak pernah menyangkal akar Turki-nya, menempatkan Istanbul sebagai surga penyelamatan.

Melihat Head-On mengingatkan saya pada karakter Ka dalam novel Snow karya Orhan Pamuk. Bukan semata-mata karena kesejajaran tokoh Ka dengan Cahit, yang sama-sama imigran Turki di Jerman yang melakukan perjalanan ke Turki demi mengejar cintanya, tapi juga karena keserupaan temanya. Dalam Snow, dan juga karya Pamuk lainnya, karakter-karakternya selalu ditempatkan dalam kegamangan identitas dan ambiguitas budaya yang diakibatkan oleh pertentangan kebudayaan Barat dan Timur. Sebuah masalah yang sepertinya disematkan sejak lahir kepada setiap orang Turki modern, buah dari westernisasi, modernisasi dan sekularisasi yang diusung oleh Kemal Ataturk. Bagi saya, melihat film-film Fatih Akin seperti membaca novel-novel Orhan Pamuk dengan perspektif dan media yang berbeda.

0 4 Months, 3 Weeks and 2 Days (2007)


Judul asli: 4 Luni, 3 Saptamani si 2 Zile
Sutradara: Cristian Mungiu
Pemain: Anamaria Marinca, Laura Vasiliu, Vlad Ivanov

Berlatar belakang di Rumania pada tahun-tahun akhir kekuasaan rezim Nicolae Ceaucescu, film ini mampu merefleksikan dengan baik kehidupan masyarakat Rumania dengan berbagai persoalannya. Bercerita tentang Otilia, seorang mahasiswi yang berusaha membantu teman sekamarnya, Gabita, untuk melakukan aborsi, yang pada saat itu merupakan perbuatan ilegal.

Otilia disini merupakan karakter yang merepresentasikan orang Rumania kebanyakan yang hidup dibawah tekanan pemerintahan otoriter. Dia mengatasi kebuntuan dengan jalan alternatif meskipun itu harus mengorbankan dirinya sendiri, membantu orang lain meskipun dia sendiri punya masalah – dengan kekasihnya yang posesif dan keluarganya. Gabita sebaliknya, dia tak punya inisiatif, sebuah hal yang, di tempat dimana ‘yang di atas menentukan segalanya,’ pasti akan meremukkannya. Ok, dia hamil, lalu membuat sebuah keputusan antara hidup dan mati. Sebatas itu. Sisanya dia serahkan pada Otilia. Segalanya.

Otilia mengumpulkan uang, membeli semua kebutuhan di pasar gelap, menyewa kamar hotel, menemui ahli aborsi, Bebe, yang curiga bahwa dirinya sedang dijebak, sampai membujuknya dengan tubuhnya karena Gabita berbohong mengenai usia kehamilannya. Tragedi sesungguhnya ada disini, dua perempuan muda yang ketakutan berhadapan dengan seorang lelaki yang oportunis. Sangat putus asa. Sangat memilukan.

Ditengah-tengah itu dia harus menjalani ujian kesetiaan yang diajukan Adi, kekasihnya - dia harus datang ke acara ulang tahun ibunya. Meskipun terlambat dia berhasil datang, hanya untuk duduk diam dan dilecehkan oleh orang tua Adi dan kawan-kawannya. Adegan diakhiri dengan Otilia dan Gabita saling berhadapan di meja makan. Mereka sepakat untuk tidak menyinggung lagi kejadian ini. Penyelesaian yang sublim ditambah tak adanya soundtrack sepanjang film ini membuat nuansanya semakin kelam.

Tragedi mencengangkan ini terekam dengan baik dalam sinematografi minimalis dari Cristian Mungiu. Film kedua Mungiu ini menjadi bukti kebangkitan sinema realis Rumania yang menonjolkan aspek ide dan cerita dibandingkan dengan grafis menawan semata. Bagi yang terbiasa melihat ‘film sebatas rekreasi visual’ saja, kemungkinan besar akan merasa bosan dengan film ini. Jangan pula mengharapkan adegan-adegan dahsyat yang membuat jantung berdebar-debar atau semacam itu. Cerita yang mengalir datar didapatkan dari kamera yang mengikuti gerak dan ekspresi tokohnya, serta relasi yang terjalin antar tokohnya, membuat penonton seolah-olah terbawa masuk dalam alam kesadaran tokohnya, merasakan apa yang dirasakannya. Inilah yang saya rasakan ketika Otilia duduk diam di ruang makan Adi, mendengarkan - setengah bosan, setengah canggung – obrolan dan sindiran kawan-kawan keluarga Adi, sembari memikirkan bagaimana keadaan Gabita. Inilah kekuatan utama film ini.

Rumania pada tahun 1987 dibawah rezim Nicolae Ceausescu merupakan masa-masa yang sulit bagi warganya. Rezim Ceausescu dianggap, oleh beberapa kalangan, sebagai rezim paling brutal dan represif dibandingkan dengan negara-negara komunis lainnya. Pada saat itu, aborsi sama saja dengan menantang maut, baik melalui prosesnya yang ilegal maupun hukuman yang menantinya jika ketahuan oleh pemerintah. Buramnya cerita 4 Months, 3 Weeks and 2 Days merupakan kritik sosial yang tajam terhadap represi kekuasaan yang totaliter. Bersama dengan Lives of the Others dan Goodbye Lenin, film ini adalah suara memilukan dari masyarakat Eropa Timur menjelang keruntuhan komunisme.
 

Kala Ireng Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates