3/15/2013

2 The Sweet Hereafter (1997)


Sutradara: Atom Egoyan
Pemain: Ian Holm, Sarah Polley, Bruce Greenwood, Gabrielle Rose

Apa yang kita harapkan dapat diperoleh dari menonton sebuah film? Sebuah pertanyaan sederhana yang terkadang jawabannya lebih rumit dari yang dibayangkan. Film, yang baik tentu saja, bisa menyajikan banyak hal, pengalaman tentang kehidupan dan juga kematian, tentang harapan dan kecemasan, tentang psikologi manusia dan bagaimana mereka bereaksi secara emosional terhadap semestanya, dan lain sebagainya. Secara sederhana, sebuah film bisa menyajikan pengalaman yang mengayakan batin. Jika ini yang kita cari, The Sweet Hereafter, sebuah karya luar biasa dari sutradara Atom Egoyan yang diangkat berdasarkan novel Russel Banks, patut untuk dicermati.

Mengambil tempat di sebuah kota kecil di Kanada, dengan hamparan putih salju yang mendominasi lanskapnya dan langit kelabu yang menggantung di cakrawala, kita langsung dibawa menuju suasana terpencil dan, sedihnya, penuh kemuraman. Sebuah kecelakaan tragis baru saja terjadi. Kecelakaan itu merenggut nyawa hampir semua anak kecil di kota itu kecuali seorang, tapi korban sesungguhnya dari tragedi itu adalah mereka yang selamat dan para orangtua yang kehilangan. Ya, eksplorasi kedukaan orang-orang yang ditinggalkan adalah motif utama film ini. Bagaimana mengatasi kehilangan dan emosi yang muncul sebagai bentuk ekspresi kedukaan bermacam-macam. Ada yang menuangkannya dalam bentuk kemarahan, sebagian putus asa, sebagian lagi menyalahkan diri sendiri.

Adegan dibuka dengan sangat sublim. Sebuah keluarga – ayah, ibu dan bayi mereka – tertidur di lantai. Kamera melihat dari atas bentuk paling sederhana dari keintiman kehidupan privat itu, dan menempatkan penonton dalam kerangka sebagai seorang pengganggu. Tapi kemudian, sosok pengganggu itu diwujudkan dalam bentuk seorang pengacara, Mitchel Stephens (Ian Holm), yang datang ke kota itu untuk membujuk para orangtua agar mengajukan tuntutan hukum kepada pihak-pihak yang disinyalir, secara langsung maupun tidak, menyebabkan terjadinya kecelakaan itu. Pada awalnya terkesan dia adalah sosok yang dingin, dan semata datang sebagai seorang, katakanlah, pengambil keuntungan dari kemalangan orang lain. Meskipun di awal-awal disajikan percakapannya dengan putri satu-satunya yang bermasalah, barulah sepanjang film kita mengetahui bahwa uang bukanlah tujuan utamanya. Melalui sorot matanya, kita bisa tahu dilema yang dihadapinya, dan semacam perasaan kehilangan yang sama seperti yang dirasakan oleh para orangtua yang anak-anaknya meninggal dalam kecelakaan itu. Usaha untuk mengajukan tuntutan itu bisa dipandang sebagai sebuah “penebusan” atau, setidaknya, sebuah cara untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Kunci dari kasus ini adalah kesaksian korban yang selamat, si remaja Nicole Burnell, yang diperankan dengan sangat menawan oleh Sarah Polley. Kecelakaan itu tidak hanya merenggut kemampuannya berjalan tetapi juga masa depannya. Sebelum terjadinya kecelakaan, masa depan gemilang seperti sudah menantinya. Tapi dalam sekejap saja, tiba-tiba dia seolah kehilangan segalanya, termasuk “kasih sayang” ayahnya yang berlebihan. Kecewa dan putus asa, tapi apa yang bisa dilakukannya? Pada titik tertentu, dia akhirnya mengambil jalan seperti tokoh dongeng anak-anak dalam cerita yang pernah diceritakan olehnya sekaligus mengingkari janjinya sendiri untuk tak berkata bohong.

Dengan narasi yang disampaikan secara mozaik namun tak membingungkan (salah satu kelebihan film ini), Egoyan membawa kita mengarungi sisi psikologis manusia di tengah duka. Kita melihat bagaimana hancurnya perasaan Dolores, sang sopir bus, saat menyadari semua anak-anak itu bagaikan anak-anaknya sendiri yang tak dimilikinya. Atau bagaimana melanjutkan hidup setelah segala yang dimiliki menghilang. Bagi Nicole, melakukan sebuah aksi balas dendam yang manis, tapi sekaligus menyakitkan. Dan bagi Billy Ansel, yang kehilangan dua anak kembarnya, itu sama artinya dengan stagnasi, dan yang bisa dilakukannya hanyalah mempertahankan masa lalu. Baginya, masa depan itu sudah tak ada. Karena itu, tuntutan class action itu tak diperlukan dan sang pengacara dianggap sebagai seorang pengganggu saja. Jika tuntutan itu terealisasi, dia sadar bahwa relasi di antara masyarakat akan berubah. Tapi meskipun tuntutan itu gagal, kita semua tahu bahwa pada akhirnya perubahan itu tetap tak bisa dihindari.

2/07/2013

0 The World Is Big and Salvation Lurks Around the Corner (2008)



Judul asli: Svetat e golyam i spasenie debne otvsyakade
Sutradara: Stefan Komandarev
Pemain: Miki Manojlović, Carlo Ljubek, Hristo Mutafchiev, Ana Papadopulu

Tema pencarian identitas umum dijumpai dalam film-film perjalanan. Seseorang yang kehilangan ‘identitasnya’ melakukan perjalanan ke sebuah tempat, secara sadar ataupun tidak, demi mencari ‘sesuatu’ yang hilang dari dirinya. Seperti yang kita ketahui, perjalanan tersebut tidak semata-mata secara fisik, tetapi lebih menjurus pada perjalanan spiritual. Lewat pengalaman yang ditemui selama perjalanan itu, sang tokoh mendapatkan, katakan saja, kekayaan batin ataupun semacam pencerahan – sesuatu yang membuat dirinya bisa memaknai kembali kehidupannya. Sesederhana itu alur ceritanya.

Stefan Komandarev mengadopsi alur cerita tersebut dengan taat dalam “The World Is Big and Salvation Lurks Around the Corner.” Tokoh sentralnya adalah Sashko, seorang pemuda emigran asal Bulgaria yang tinggal di Jerman. Ya, begitulah. Emigran yang tinggal di tempat asing adalah kata kuncinya. Kita pun seakan mahfum jika persoalan siapa dan bagaimana menempatkan dirinya dalam perbedaan budaya menjadi kendala umum di kalangan emigran. Persoalan rumit dan kompleks yang tak akan selesai dibahas dalam beribu-ribu halaman buku. Tapi tenang saja, Komandarev sepertinya tak ingin membuat penontonnya mengerutkan dahi dan lebih memilih untuk menarasikan kisahnya dalam bentuk paling sederhana dan memikat.

Kisahnya dimulai dari kelahiran bayi Sashko di sebuah tempat di Balkan dimana “Eropa berakhir tapi tak pernah bermula.” Kisah selanjutnya melompat ke masa Sashko muda, bersama ayah ibunya bermobil menuju Bulgaria untuk pertama kalinya sejak beremigrasi. Tapi malangnya, mereka mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah ibunya. Sashko selamat dan berangsur-angsur pulih secara fisik tapi tidak dengan ingatannya. Mengetahui hal itu, kakeknya Bai Dan, seorang juara lokal permainan backgammon, mencoba membantunya memulihkan ingatan tentang masa lalunya sekaligus jati dirinya dengan mengajaknya bersepeda menuju tanah kelahirannya diselingi dengan permainan backgammon yang filosofis.

Dengan serangkaian kilas balik di sepanjang film, kisah Sashko kecil pun disampaikan untuk melengkapi keutuhan kisah hidup Sashko. Keluarganya – ayah, ibu, kakek, dan nenek – tinggal di Bulgaria di masa pemerintahan komunis yang mengekang kehidupan masyarakatnya. Kakeknya yang berwatak keras suatu kali menyindir pejabat partai yang berkuasa. Perbuatan itu secara tak langsung membuat keluarganya tersudut, dan memaksa ayah ibunya untuk bermigrasi, tentunya secara ilegal.

Satu hal menarik yang saya tangkap dari film ini mengenai dua perjalanan yang dilakukan oleh karakter Sashko, yang pertama ketika dia bermigrasi ke Jerman dan kemudian ketika dia bersama kakeknya bersepeda menuju Bulgaria. Melalui mata Sashko kecil kita diajak berjalan dari lingkup tradisional menuju kemegahan modernitas. Kemudian saat tersesat dalam modernitas, dalam kasus Sashko hal ini diwujudkan dalam bentuk amnesia, kita diajak untuk meninggalkan sejenak modernitas dan kembali menuju akar tradisinya. Inilah perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Sashko, menggali jati dirinya agar dia bisa mendefinisikan dirinya dalam dunia modern yang asing. Jati diri adalah pegangan manusia di tengah carut marutnya dunia modern.

Film yang diangkat berdasarkan novel semi biografis karya Ilija Trojanov ini mencoba menawarkan perspektif lain dalam kehidupan totalitarian menjelang keruntuhan rezim komunisme di Eropa Timur lewat kacamata sebuah keluarga kecil dan segala seluk beluk permasalahan yang dihadapi oleh mereka. Meskipun alur ceritanya sangat sederhana, mudah ditebak dan, dalam taraf tertentu, mendekati klise, tak mengurangi kenikmatan menyimak kisah yang berakhir bahagia ini. Banyaknya pesan-pesan moral maupun filosofis yang terselip dalam obrolan-obrolan ringan di sela-sela permainan backgammon disertai panorama pegunungan yang menawan di sepanjang perjalanan kedua tokohnya merupakan nilai tambah tersendiri bagi film ini.

1/04/2013

0 Prisoner of the Mountains (1996)


Judul asli: Kavkazskiy plennik
Sutradara: Sergei Bodrov
Pemain: Sergei Bodrov Jr., Oleg Menshikov,
Jemal Sikharulidze, Susanna Mekhralieva


Perang itu absurd. Perang itu sia-sia. Perang itu tak ada gunanya. Sentimen anti perang semacam itu sangat lazim ditemui dalam film-film anti-perang, yang biasanya mengupas persoalan mengenai tempat manusia dalam gejolak perang. Itulah yang disampaikan secara liris dan menggugah oleh Sergei Bodrov dalam Prisoner of the Mountains, yang mencoba menggambarkan absurditas perang dengan lebih seimbang dan lebih personal.

Film yang diangkat dari cerpen karya pujangga besar Rusia, Leo Tolstoy, ini berlatar konflik antara pemerintah Rusia dengan Chechnya. Sejak Tolstoy menulis cerpennya kurang lebih satu setengah abad yang lalu, situasi konflik tak banyak berubah, bahkan semakin memanas pada pertengahan tahun 1990-an. Pengambilan gambar film ini bahkan terjadi beberapa saat sebelum meletusnya pemberontakan Chechnya, dan lokasinya pun hanya berjarak beberapa km dari lokasi peperangan.

Menceritakan dua orang tentara Rusia, Sasha (Oleg Menshikov) dan Vanya (Sergei Bodrov Jr.), yang ditawan oleh seorang gerilyawan muslim, Abdul Murat (Jemal Sikharulidze). Gerilyawan muslim biasanya tak pernah mengambil tawanan perang, tetapi Abdul tak punya pilihan lain setelah putranya ditawan oleh pihak Rusia. Sasha dan Vanya hendak dijadikan sebagai alat barter bagi putranya.

Di tengah-tengah penantiannya sebagai tawanan perang, kedua tawanan tersebut, yang karakternya sangat berbeda, mulai menjalin persahabatan. Sasha adalah seorang veteran yang gila perang dan keras kepala. Dia bergabung dengan militer karena “dia bodoh, menyukai senjata dan membutuhkan uang.” Awalnya dia merasa terganggu dengan Vanya, seorang prajurit baru yang masih naif, belum pernah sekalipun menembakkan senjatanya, dan mengkhawatirkan nasibnya selama ditawan. Tapi pada akhirnya dia menjadi pembimbing dan pelindungnya.

Lamanya masa penahanan rupanya menjadi pengalaman baru bagi si hijau Vanya. Dari hasil pengamatan sehari-hari, dia mulai memahami kehidupan orang-orang pegunungan tersebut, dan juga menjalin pertemanan dengan putri bungsu Abdul, Dina (Susanna Mekhralieva). Dina adalah satu-satunya karakter yang memandang kedua tawanan tersebut sebagai manusia, bukan sebagai musuh. Melalui interaksi dua orang inilah kita disuguhi penilaian betapa perang sebagai justifikasi melakukan pembunuhan itu sangat tak masuk akal.

Sergei Bodrov menyampaikan pesan humanisme universal ini dalam bentuk sederhana, disertai gambaran lanskap pegunungan yang indah dan tenang – sebagai gambaran kontras terhadap riuh peperangan – dan juga dialog yang kental dengan humor ironis. Sebagai pengingat tentang absurditas perang, film ini bisa dibilang berhasil menyajikannya dengan ringan namun tanpa kehilangan bobotnya.


12/13/2012

1 Tiga Film Tentang Perang Balkan

Perang Balkan (1991-1995) bisa jadi merupakan salah satu perang paling kompleks, membingungkan dan berdampak paling menghancurkan dalam sejarah perang modern setelah Perang Dunia II. Dari segi politis, perang ini memunculkan kesatuan-kesatuan politik baru yang dibangun dari reruntuhan negara Yugoslavia. Dari segi kemanusiaan, muncul istilah baru yang dampaknya setara dengan holocaust pada Perang Dunia II, yaitu pembersihan etnis. Bagi manusia-manusia pasifis yang terjebak dalam kondisi carut-marut tersebut, perang ini merupakan sebuah kejadian yang absurd. Begitulah setidaknya yang saya tangkap dari film-film tentang Perang Balkan karya sineas negeri itu; Underground (1995) karya Emir Kusturica, Pretty Village Pretty Flame (1996) karya Srdjan Dragojevic, dan No Man’s Land (2001) karya Denis Tanovic.

“Pada suatu masa, ada sebuah negara, dan ibukotanya adalah Belgrade.” Begitulah narasi awal Kusturica untuk membawa kita menuju kisah penghancuran diri sebuah negara oleh orang-orang negara itu sendiri. Menelusuri jejak Yugoslavia selama kurang lebih lima puluh tahun, kita akan mendapati bagaimana reaksi penduduknya menanggapi peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di sekitar mereka serta bagaimana mereka berjuang untuk kejayaan negara itu dan, ironisnya, kemudian menghancurkannya dengan tangan-tangan mereka sendiri.

Underground mengikuti perjalanan sepasang sahabat, Blacky dan Marko, mulai dari invasi Reich-nya Hittler, era perang dingin, sampai perang saudara pada awal dekade 1990-an. Film yang dibawakan dalam nuansa humor surealis ini menyorot sepak terjang masing-masing karakter dan bagaimana mereka berinteraksi dengan keadaan sekitar. Blacky yang idealis dan romantis, tak pernah bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus tunduk pada kekuasaan asing. Dia berjuang dengan berbagai cara untuk memastikan bahwa kedaulatan negaranya tetap terjaga. Pada sebuah kesempatan, dia sangat tersudut sehingga memaksanya mengungsi ke bawah tanah. Hal ini berbanding terbalik dengan Marko yang lebih dinamis dan oportunis, meskipun keduanya sama-sama berjuang untuk tanah airnya. Kemudian sampailah pada adegan yang absurd, Marko mengelabui Blacky agar tetap tinggal di bawah tanah dengan alasan perang masih berlangsung. Padahal sebenarnya perang sudah lama usai, dan Marko, yang kini menempati posisi penting dalam birokrasi Yugoslavia dibawah pemerintahan Tito, memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Tinggalnya Blacky di bawah tanah ini semacam simbol pengawetan idealisme dalam diri Blacky yang tak terkontaminasi oleh pengaruh luar. Dan ketika Blacky keluar, kita melihat bagaimana ketidakmampuan untuk menafsirkan keadaan bisa berakibat sangat fatal.

Menempatkan dua sosok individu dalam situasi perang, yang awalnya bersahabat kemudian saling beroposisi, bukanlah tema baru, bahkan sangat lazim digunakan untuk menggambarkan absurditas dari perang dalam mempengaruhi nilai-nilai kemanusiaan, dalam hal ini hubungan antar individu yang tersisihkan oleh apa yang disebut nasionalisme, patriotisme, dan sebagainya. Kusturica mengakhiri filmnya dengan narasi “tak ada yang namanya perang sampai seseorang membunuh saudaranya sendiri.” Dan dalam Pretty Village Pretty Flame, Srdjan Dragojevic mencoba menekankan dampak perang ini melalui tokoh Milan dan Halil.


 
Milan yang seorang Serbia dan Halil yang seorang muslim Bosnia merupakan sahabat semasa kecil. Di dekat desa mereka terdapat terowongan yang menurut dongeng lokal merupakan tempat tinggal monster yang jika dibangunkan akan “memangsa orang-orang desa dan membakar rumahnya.” Ketika mereka berdua memberanikan diri untuk melihat ke dalam terowongan tersebut, mereka menemukan tumpukan mayat dan juga, yang mengejutkan, mayat mereka sendiri. Ini semacam tanda bahwa, entah bagaimana caranya, mereka akan selalu memiliki keterikatan dengan terowongan itu. Dan memang itulah yang terjadi, setelah dewasa keduanya bertemu kembali di terowongan tersebut, kali ini berada di kubu yang saling berlawanan. Milan merupakan bagian dari pasukan milisi Serbia yang bertugas menghancurkan desa-desa orang Bosnia. Suatu malam mereka disergap oleh pasukan Bosnia yang membuat kesatuan Milan tersudut dan berlindung di dalam terowongan. Halil ada di dalam kesatuan pasukan Bosnia yang mengepung Milan dan rekan-rekannya. Dan kisahnya berlanjut dengan serangkaian kilas balik yang mengulas latar belakang masing-masing tokoh yang terjebak di dalam terowongan itu.
Meskipun film ini bisa dibilang berhasil dengan baik menggambarkan konflik Balkan setidaknya dari sisi Serbia, banyak kritik menyebutnya sebagai penyangkalan Serbia atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Perang Balkan. Dan dalam beberapa tingkat, saya sendiri menilai ada beberapa poin yang disampaikan secara tidak berimbang. Karakter Milan, entah sengaja atau tidak, seolah-olah digambarkan sebagai pahlawan yang tak berdaya, dan tindakannya semata karena dorongan naluriah yang muncul dari kekacauan perang. Di sisi lain, pihak Bosnia tak mendapat porsi yang cukup dan hanya digambarkan sisi brutalnya saja. Setidaknya, hal inilah yang mendasari Denis Tanovic untuk menggambarkan situasi perang dengan lebih berimbang dalam No Man’s Land.


No Man’s Land membawa absurditas perang dalam bentuknya yang paling personal: interaksi dua individu berlawanan yang terperangkap di tanah tak bertuan. Terkadang lucu, tapi lebih kental nuansa ironinya. Itulah yang terjadi antara Ciki, seorang milisi Bosnia, dengan Nino, seorang prajurit Serbia. Di tengah penantiannya, yang terkesan sia-sia, mereka berdebat tentang siapa yang memulai perang dan menghancurkan negeri yang indah itu. Jika dalam keadaan normal, bisa jadi mereka akan berteman, saling mengirimi kartu ucapan selamat tahun baru, dan hal-hal yang biasa dijalani oleh dua sosok manusia yang tak terlibat perang. Tapi pada kenyataannya, buat apa berkenalan jika ke depannya mereka akan saling membidikkan senapan. Meskipun di masa lalu mereka pernah mengencani perempuan yang sama, kini mereka harus saling membunuh untuk menyelamatkan diri mereka sendiri.

Selain itu Tanovic juga mengkritisi entitas PBB dan keterlibatannya dalam konflik Balkan. Kita melihat bagaimana pasukan perdamaian PBB yang, dengan kapasitas dan dukungannya, seharusnya bisa menghentikan perang sia-sia ini, justru lebih memilih bersikap pasif dan menjadi pengamat saja. Bagaimana tragedi kemanusiaan ini bisa dengan mudahnya disingkirkan oleh omong kosong birokratis dan dagelan politik tingkat tinggi jika menyangkut orang-orang tak dikenal. Sungguh aneh sekaligus ironis bagaimana posisi manusia dilihat dari kacamata politis ini.

Dampak konflik Balkan bagi penduduk di wilayah itu sangat menghancurkan, baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Adegan penutup dari Underground, ketika masing-masing tokoh berkumpul dan berpesta di sebuah tanah yang perlahan memisahkan diri dari daratan utama, bisa jadi melambangkan keinginan penduduk setempat untuk tak lagi mengalami mimpi buruk itu dan hidup berdampingan dengan damai.

11/05/2012

3 The Man Without a Past (2002)


Judul asli: Mies Vailla Menneisyytta
Sutradara: Aki Kaurismaki
Pemain: Markku Peltola, Kati Outinen

Bagaimana seseorang menjalani hidup tanpa ingatan tentang masa lalunya? Tema semacam itu sering kita jumpai dalam film-film misteri dan psychological thriller, yang biasanya mengedepankan pencarian identitas yang hilang dan merupakan kunci dari seluruh film tersebut. Tapi dalam drama romantis karya Aki Kaurismaki, The Man Without a Past, hilangnya ingatan justru dijadikan sebagai titik tolak untuk memulai hidup baru. Jangan salah sangka, meskipun permulaannya mengejutkan, film ini lebih bernuansa drama-komedi romantis dan sama sekali tak ada unsur misteri didalamnya.

Kisah dimulai ketika tokoh utamanya (Markku Peltola) tiba di Helsinki dan menjadi korban perampokan dan penganiayaan hingga dia nyaris mati. Meskipun sudah dinyatakan meninggal oleh dokter, entah bagaimana dia bangkit dan berjalan, tanpa arah, tujuan, maupun alasan tertentu. Terlebih lagi dia tak ingat siapa dan darimana asalnya. Dia sampai di pemukiman kaum gelandangan yang tinggal di kontainer bekas, dan disanalah kisahnya berlangsung. Dalam suasana yang serba terbatas, kita akan disuguhi perjuangan untuk menata hidup, empati yang terjalin antar sesama gelandangan, bagaimana sulitnya hidup di dunia modern ini tanpa sebuah identitas, dan diatas segalanya, sebuah kisah cinta yang unik. Lewat sosok Irma (Kati Outinen), seorang pekerja sosial yang membantu para gelandangan, dia tidak sekedar mendapatkan dorongan material dan spiritual untuk memulai hidupnya kembali, tetapi juga cinta yang, seingatnya, tak pernah didapatkannya.

Dalam pengambilan gambar yang nyaris statis, kita akan mendapatkan kisah yang mengalir dengan dialog yang minimalis dan terkesan humoris. Berkali-kali saya tersenyum mendengar percakapan antar tokohnya yang ringan namun mengena. Bagaimana deskripsi anjing yang galak itu tak seperti kenyataannya, atau jawaban tukang listrik saat ditanya berapa biaya pemasangan listriknya adalah bagian-bagian komikal dari film ini. Dan mencapai puncak humornya pada perdebatan hukum antara petugas polisi dengan seorang pengacara. Selain suguhan humor, ada juga nuansa tragis didalamnya. Seperti saat si tokoh hendak mencari kerja, tapi dia harus mengisi lamaran yang mengharuskannya mencantumkan nama dan seluruh identitasnya. Juga gambaran tentang bagaimana sikap orang-orang yang tak bisa mempercayai kenyataan bahwa dia kehilangan ingatannya. Lucu sekaligus trenyuh mendengarnya.

Wajah datar dan nyaris tanpa ekspresi yang diperlihatkan Markku Peltola sepanjang film benar-benar menggambarkan orang yang tak punya masa lalu. Kita tak pernah tahu apa perasaan yang bergejolak dibalik wajah seperti itu. Wajah itu tak pernah mengungkapkan kebahagiaan, jikalau ada, maupun kesedihan secara berlebihan. Tetapi entah bagaimana, saya melihat ada bayang-bayang sendu yang tak diinginkannya terbawa dari masa lalunya di wajah itu. Itulah kenapa, hilangnya ingatan tentang masa lalunya merupakan tonggak baginya untuk memulai hidup baru. Tanpa adanya kenangan yang mengikatnya, dia seperti terlahir kembali.

Pada akhirnya kita akan disuguhi panorama kehidupan manusia dengan berbagai persoalannya, bagaimana memposisikan diri dalam dunia yang asing, dan bagaimana memaknai kebahagiaan dalam bentuknya yang paling sederhana. The Man Without a Past bisa dikatakan sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh Aki Kaurismaki.

11/03/2012

14 No Country for Old Men (2007)


Sutradara: Joel Coen dan Ethan Coen
Pemain: Javier Bardem, Tommy Lee Jones, Josh Brolin


Kritikus film Roger Ebert suatu kali pernah berkata, ”Baik buruknya sebuah film bisa dilihat dari karakter tokoh jahatnya.” Meskipun banyak dari pilihan film yang dipujinya kurang sesuai dengan selera saya pribadi, mau tak mau saya menyetujui pernyataannya itu terkait dengan karya paling prestisius dari Coen bersaudara, No Country for Old Men. Melihat film ini tentunya tak bisa mengesampingkan karakter sosiopat berpotongan rambut lucu bernama Anton Chigurh. Dialah tokoh jahat sekaligus ‘roh’ film ini.

Berawal dari sebuah transaksi narkoba yang berjalan kacau, dimulailah perjalanan takdir yang menentukan nasib tiga tokoh utamanya. Llewelyn Moss (Josh Brolin), seorang veteran perang Vietnam, menemukan uang haram transaksi tersebut dan, seperti sudah menjadi naluri dasar setiap manusia yang dihadapkan pada pilihan yang terlihat menguntungkan, mengambilnya. Si pemilik uang kemudian mengirimkan Anton Chigurh (Javier Bardem) untuk mendapatkannya kembali. Menyadari sesuatu yang buruk sedang dan akan terjadi, seorang sheriff tua bernama Tom Bell (Tommy Lee Jones) melacak keduanya dengan harapan untuk menyelamatkan Moss dari ancaman Chigurh. Dan akhirnya kita disuguhi sebuah adegan perburuan yang unik. Mereka bertiga saling berhubungan, akan tetapi, kecuali adegan dimana Moss dan Chigurh saling baku tembak, ketiganya tak pernah berada dalam satu ruang, waktu dan frame secara bersamaan.

Kisah No Country for Old Men mengambil latar di daerah Texas tahun 1980-an. Membayangkan daerah barat Amerika, daerah yang menampilkan kesan seperti wilayah pinggiran yang terlupakan dari sebuah peradaban, yang gersang dan tandus, tak bisa dilepaskan dari nuansa kekerasan dan hukum alam dimana yang kuatlah yang bisa selamat. Bisa jadi karena itulah daerah barat Amerika menjadi sumber inspirasi film-film koboi, disana hukum dan keadilan disuarakan dengan moncong sebuah senapan.

Dalam film-film bergenre western, kita sering melihat pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, dimana biasanya kebaikan selalu mengalahkan kejahatan. Meskipun film ini bisa dikategorikan dalam genre serupa, No Country for Old Men tidak terjerumus dalam stereotip semacam itu. Bahkan bisa dibilang karakternya tak bisa dilihat secara hitam putih, meskipun dari standar moral apapun, kita tahu siapa tangan kanan kejahatan di film ini. Tapi dimana orang baiknya?

Dilihat dari perspektif moral, agama, maupun hukum, Chigurh adalah orang jahat. Tapi meskipun dia seorang pembunuh, dia tak melakukannya dengan membabi buta. Dia punya prinsip. Bukan dia yang menentukan apakah orang yang ditemuinya itu dibunuh atau tidak, tapi takdir yang dipilih orang itu berdasarkan lemparan koin. Seorang pembunuh yang punya standar kode etiknya sendiri, membunuh tanpa belas kasih tapi tetap menjaga dirinya supaya tak ternodai darah korbannya. Dia adalah semacam representasi biblikal dari malaikat maut, kemanapun dia melangkah selalu membawa bayang-bayang kematian. Dan saat dia melanggar prinsip itu dengan membunuh istri Moss, dia mendapat hukumannya.

Karakter Moss sedikit membingungkan. Memang dia ambisius, keras kepala, dan tamak, tapi dia juga mencemaskan keselamatan istrinya. Dia juga sempat kembali ke tempat kejadian transaksi dengan membawa minuman, tapi itu hanya untuk sekedar mengobati rasa bersalahnya. Sebagai seorang alumni perang, dia mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Ketika menemukan mayat-mayat bergelimpangan, dia punya pilihan. Dengan berbekal rasa percaya diri bahwa dia bisa mengatasi resiko yang akan muncul, dia memutuskan untuk mencari uangnya. Pilihan yang mengubahnya dari seorang pemburu menjadi yang diburu.

Sebagai seorang sheriff, Tom Bell bukan karakter yang ideal. Alih-alih sebagai penegak hukum yang berkeinginan menangkap penjahat dengan sekuat tenaga, dia seolah terlihat tak mau berurusan langsung dengan Chigurh karena, seperti yang dia katakan di awal, “tak mau ambil bagian dari sesuatu yang tak dipahami.” Itulah yang membuatnya selalu tertinggal selangkah dibanding dengan Chigurh maupun Moss. Tom Bell adalah si Orang Tua dalam film ini. Dia mencoba mendefinisikan tempatnya di dunia yang tak lagi mampu dia pahami karakteristiknya. Tak seperti deputinya yang selalu waspada, dia berkali-kali terlihat memasuki tempat kejahatan berlangsung tanpa menyiapkan senjatanya karena dia merasa bahwa hal itu tak perlu. Di masanya, hal itu mungkin tak perlu. Tetapi ketika pada akhirnya dia menyadarinya, saat mendatangi lokasi terbunuhnya Moss, itu sudah terlambat. Ini bukan masanya lagi. Tak ada lagi tempat bagi orang tua dalam dunia yang brutal semacam itu.

Sekali lagi, Coen bersaudara mengangkat kembali tema yang sukses mereka sampaikan lewat Fargo kedalam film ini. Pesimisme dalam diri Tom Bell dan nihilisme yang dibawa Anton Chigurh diturunkan langsung dari novel Cormac McCarthy yang menjadi sumber film ini. Ditambah lagi kehendak bebas dan jalannya takdir menjadi bagian dominan di sepanjang film. Seperti yang terjadi pada Moss saat dia mendatangi lokasi transaksi obat bius. Dia punya pilihan yang harus dihadapi, dia menimbang konsekuensinya, dan memilih, sayangnya, yang terburuk. Dia sadar mengenai apa yang akan dihadapi dengan pilihannya itu, tetapi dia menganggap bisa mengatasi ancaman iblis yang ada di balik itu. Dia terbukti salah dengan anggapan itu. Menyangkut temanya, tak ada yang lebih jelas menggambarkannya dibandingkan dengan adegan-adegan awal ketika seorang deputi menangkap Chigurh. Dia menelepon atasannya dan mengatakan bahwa semuanya bisa dikendalikan. Tapi beberapa saat kemudian dia mati. Sesingkat itu. Keadaan yang terlihat bisa ditangani, ternyata berjalan di luar kendali.

Sebagian penonton No Country for Old Men ada yang pulang dengan membawa kekecewaan. Dua hal yang paling disorot adalah adegan penutup yang dianggap antiklimaks dan tak adanya pesan moral didalamnya. Saya mendengarnya sendiri ketika seorang teman bertanya pada saya apa yang bisa didapat dari menonton film ini. Saya menjawabnya, dengan setengah bercanda, bahwa jika dia menginginkan pesan moral dan sebagainya, pergi saja ke khotbah Jumat. Lewat film ini, Coen bersaudara sepertinya memang tak ingin menguliahi kita dengan pesan moral atau apalah, bahwa kejahatan itu buruk dan pada akhirnya kebaikan pasti menang dan sebagainya. Justru mereka mengajak kita sebagai penonton untuk berpikir bagaimana jika dunia yang dicitrakan dalam film itu masuk kedalam realitas kita sehari-hari. Kita melihat reaksi si Orang Tua terhadap keadaan itu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan seperti Tom Bell? Atau sebaliknya? Atau apa? Itulah kenapa, menurut saya, alih-alih memberi jawaban akhir, adegan penutupnya memang sengaja dibiarkan mengambang karena mereka ingin kita berpikir. Pilihan itu ada pada kita.

11/01/2012

0 Shadowlands (1993)


Sutradara: Richard Attenborough
Pemain: Anthony Hopkins, Debra Winger

Shadowlands adalah sebuah film yang diangkat berdasarkan kisah nyata mengenai hubungan asmara C. S. ‘Jack’ Lewis, penulis Narnian Chronicles, dengan Joy Gresham, seorang penyair Amerika. Berlatar di Oxford, Inggris pada tahun 1950-an, film ini mengeksplorasi tema kesedihan dan kehilangan dengan sangat mendalam.

Selama bertahun-tahun, Jack (Anthony Hopkins) menjalani hidup dengan pola yang sama. Dia adalah seorang pengajar di Oxford dan seorang penulis yang hidup tenang bersama saudaranya. Berkat karyanya, Narnia dan beberapa buku tentang teologi, dia disegani oleh sesama kolega di Oxford dan menuai popularitas dari para pengagum di seluruh dunia. Namun semuanya berubah ketika dia bertemu seorang pengagum dari Amerika, Joy Gresham (Debra Winger).

Disinilah drama sesungguhnya berlangsung. Seorang perempuan Amerika yang ‘tidak cuma memiliki jiwa tetapi juga otak’ masuk kedalam lingkaran intelektual Oxford yang didominasi dan memuja kecemerlangan kaum pria. Akan tetapi gangguan ala Amerika itu bukan intinya. Perlahan-lahan, Jack yang kaku dan dingin – mengingatkan saya pada karakter James Stevens dalam Remains of the Day yang juga diperankan secara brilian oleh Hopkins – menaruh simpati pada Joy. Mereka kemudian menikah, pertama secara teknis, untuk membantu Joy memperoleh ijin tinggal di Inggris, dan yang kedua, setelah Joy menderita kanker dan Jack harus merawatnya, benar-benar menikah secara agama karena mereka berdua adalah penganut yang taat. Mereka saling mendalami perasaan kasih itu untuk sesaat, sebelum akhirnya Joy meninggal dunia. Di titik ini, Jack yang sering memberikan ceramah tentang cinta, kesedihan dan takdir manusia di tangan Tuhan, diuji oleh teorinya sendiri tentang apa itu kehilangan dan kesedihan.

Sebuah film yang diangkat berdasarkan kejadian nyata, apapun kejadian nyata itu, merupakan subjek yang akan diinterpretasi, dan juga mis-interpretasi, oleh para pengamat atau seseorang yang mengetahui kejadian itu, berdasarkan perspektifnya sendiri. Tafsiran akan kejadian nyata itu bisa menjadi perdebatan yang tak berkesudahan, apalagi jika menyangkut seorang figur terkenal seperti C. S. Lewis. Bagi pengagum Lewis, ketiadaan karakter J. R. R. Tolkien, sosok terkenal lain yang juga sahabatnya, merupakan dosa terbesar film ini. Itu seperti memfilmkan Don Quixote tanpa menyertakan Sancho Panza. Tak bisa dimaafkan, apapun apologinya.

Terlepas dari itu, menyajikan kisah kehidupan seorang sosok terkenal hanya dalam waktu sekitar 2 jam – rata-rata durasi film, merupakan hal yang sulit. Saya pribadi dapat memaklumi alasan Richard Attenborough yang hanya fokus pada aspek romansa antara Lewis dengan Gresham saja. Meskipun tak lengkap, hal itu menurut saya tak mengurangi kualitas film ini sebagai sebuah gambaran kehidupan tahap akhir dari seorang C. S. Lewis. Secara keseluruhan, Attenborough, yang sepertinya mengkhususkan dirinya pada pembuatan film biografi (Gandhi, misalnya), berhasil membuat film ini sangat menyentuh. Dialog yang kaya dan padat, serta penampilan mengagumkan dari Anthony Hopkins dan Debra Winger membuat film ini sangat layak untuk dinikmati.
 

Kala Ireng Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates