5/31/2014

0 19 Memorable Scenes

1. A Trip to the Moon (1902)
"Mendarat di bulan"

2. Safety Last! (1923)
"Bergelantungan pada waktu"

3. Un Chien Andalou (1929)
"Mata yang teriris"

4. City Lights (1931)
"Akhir bahagia"

5. Casablanca (1942)
"Wajah yang mengatakan segalanya"

6. Ikiru (1952)
"Berayun dalam kesendirian"

7. The Night of the Hunter (1955)
"Malam yang kelam"

8. The Seventh Seal (1957)
"Bermain dengan kematian"

9. La Dolce Vita (1960)
"Malam petualangan liar"

10. Band of Outsiders (1964)
"Let's dance"

11. Red Desert (1964)
"Terasing dalam kabut"

12. The Good, the Bad and the Ugly (1966)
"Mexican standoff"

13. 2001: A Space Odyssey (1968)
"The Dawn of Man"

14. Patton (1970)
"Aku ingin kalian mengingatnya"

15. Apocalypse Now (1979)
"Muncul dari ketiadaan"

16. Manhattan (1979)
"Menyongsong fajar"

17. Stalker (1979)
"Zona misteri"

18. Wings of Desire (1987)
"Menatap dengan hasrat"

19. Landscape in the Mist (1988)
 "Tangan Tuhan"
 
 
 

0 5 Film Terburuk Terbaik Sepanjang Masa

Mungkin sudah sewajarnya jika seorang sutradara berkeinginan membuat sebuah film dengan sebaik-baiknya. Tapi karena satu atau dua sebab, hasilnya mungkin tidak sesuai yang diharapkan atau justru lebih buruk lagi. Dari sini terciptalah yang namanya film buruk. Tapi jangan salah, film buruk tak selamanya buruk. Ada film yang memang buruk dalam arti sebenarnya, tapi ada juga film buruk yang terlihat istimewa. Kadang, jika kadar keburukannya melebihi yang diharapkan, film itu justru bisa menjadi tontonan yang luar biasa menghibur. Seperti kalimat klise yang usang, ‘jika kau sangat membenci seseorang, bisa jadi akhirnya justru akan menyukainya.’ Seperti itulah, keburukannya justru membuat film-film ini mendapat tempat khusus dalam benak penontonnya. Nah, daftar berikut ini adalah film-film yang masuk kategori sangat buruk sehingga akhirnya justru terlihat luar biasa.

Catatan khusus: Apapun genrenya, seserius apapun tema filmnya, anggap saja sebagai film komedi, maka dijamin anda akan mendapatkan senyuman dan tawa tak terhingga dalam setiap adegannya yang konyol dan absurd.

1. Plan 9 from Outer Space (1959)
 
 
Gabungkan antara alien, vampir dan kejeniusan seorang Ed Wood, maka jadilah sebuah film yang mencoba sebaik mungkin untuk menjadi yang terburuk di segala level, mulai dari akting, dialog, efek, dan yang menjadi ‘kekuatan’ utama dari film ini, editing. Tak mengherankan jika waktu berlalu begitu cepat dalam film ini.
 
2. Manos: The Hands of Fate (1966)
 
 
Jangan pernah menyuruh seorang penjual pupuk untuk membuat film. Serius. Siapa yang bisa tahan menyaksikan seorang penjaga rumah yang terus-menerus berjalan sempoyongan dengan kakinya yang besar? Atau melihat para wanita bergulat sepanjang malam dengan mengenakan gaun tidur? Dan polisi yang hanya berjalan sejauh 2 meter untuk memeriksa suara tembakan? Belum lagi anak kecil yang berbicara dengan suara wanita dewasa yang dibuat cempreng? Selesai? Sebaiknya begitu.
 
3. Troll 2 (1990)
 
 
Sekelompok goblin vegetarian yang repot-repot memburu manusia untuk diubah menjadi tanaman sedangkan lingkungan sekitarnya dipenuhi oleh pepohonan hijau, makanan dan minuman berwarna hijau cerah seperti yang tersaji dalam pesta ulang tahun anak kecil, dan senjata terampuh yang pernah ada dalam sebuah film. Oh, dan jangan lupakan dialog-dialog yang bisa membuat seseorang terguling-guling sakit perut menahan tawa, menjadikan Troll 2 salah satu film terlucu yang pernah ada di muka bumi. Namun sayangnya, Claudio Fragasso tak berniat membuat film komedi, dan hebatnya lagi, tak ada satu pun troll di film ini. Apapun itu, ingatlah selalu pada nasehat paling bijak yang pernah dilontarkan seorang ayah pada anaknya, “Kau tak boleh mengencingi keramah-tamahan!!”
 
4. Showgirls (1995)
 
 
Sejujurnya, sangat sulit untuk memasukkan Showgirls dalam kategori film terburuk karena satu hal, film ini benar-benar dibuat dengan serius. Maksudnya, coba saja lihat besarnya biaya produksinya, deretan pemain yang terdiri dari para aktor profesional, dan sutradara yang meramunya. Jelas ini bukan standar film kelas B yang dibuat dengan asal-asalan. Sebegitu seriusnya sampai-sampai adegan kecil seperti membuka baju, duduk, tertawa, dan sebagainya, dibuat dengan sedramatis mungkin, seolah-olah itu adalah kejadian penting yang akan mengubah dunia. Tapi tetap saja itu tak mampu menutupi buruknya skenario dan terutama akting Elizabeth Berkley yang seperti maneken yang bersikap sangat menyebalkan dengan bibirnya yang dimiring-miringkan.

5. The Room (2003)
 
 
Buruk. Sangat buruk sekali. Jika ada kata yang maknanya lebih buruk dari buruk, maka kata itu layak disematkan pada film ini. Seberapa buruk film ini? Begini saja menjelaskannya: Ini adalah jenis film dimana setiap kali tokoh-tokohnya bertemu selalu diawali dengan kalimat, “Hai, apa kabar?” lalu mereka membicarakan hal-hal konyol seperti, “Aku terkena kanker!” atau “Aku tak bisa berbuat apa-apa, karena cinta itu buta.” Kemudian seseorang bilang dengan mimik serius, “Dengar, aku punya masalah serius” tapi beberapa detik kemudian dia melanjutkan, “Tapi aku tak ingin membicarakannya saat ini” dan lawan bicaranya dengan enteng mengatakan, “Tenang, semuanya akan baik-baik saja!” Seperti itulah The Room. Seandainya Tommy Wiseau membuat film lagi, dengan senang hati saya akan menontonnya.

3/07/2014

1 Landscape in the Mist (1988)




Sutradara: Theo Angelopoulos 
Pemain: Michalis Zeke, Tania Palaiologou, Stratos Tzortzoglou

Apa yang bisa dikatakan tentang film perjalanan? Seseorang melakukan perjalanan,bertemu orang-orang baru dan mengalami berbagai kejadian dalam prosesnya, dan akhirnya dia sampai di tujuannya. Hanya itu? Tentu tidak. Sebagaimana lazimnya premis yang ditawarkan oleh film perjalanan, perjalanan yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya tidak semata perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, tapi juga merupakan perjalanan spiritual. Bahkan sebetulnya dalam kebanyakan film yang masuk kategori ini, perkembangan spiritual sang tokohlah yang menjadi sorotan utama. Itu juga yang akan ditemui dalam Landscape in the Mist karya Theo Angelopoulos yang memaparkan kisah suka duka dua anak manusia yang melakukan pengembaraan untuk menemui ayahnya.

Pada suatu malam, dua orang anak kecil berjalan bergandengan tangan menuju stasiun kereta. Tepat saat sebuah kereta berhenti, mereka menatapnya dengan seksama, seolah-olah menunggu seseorang keluar dari salah satu gerbongnya. Keberadaan mereka dikenali oleh seorang penjual, yang menanyakan alasan kedatangan mereka hampir setiap malam ke stasiun itu. Sesaat sebelum kereta mulai berangkat, mereka berlari mendekat seperti ingin naik kereta itu, tapi gagal. Misterius, begitulah pembukaan dari Landscape in the Mist. Kita tak tahu latar belakang dua anak kecil itu. Tapi seiring berjalannya cerita yang bergulir lambat, identitas keduanya dan alasan kenapa mereka datang ke stasiun itu terungkap.

Alexander, seorang anak kecil yang tinggal bersama ibunya di sebuah tempat di Yunani tahun 1980-an, setiap hari memimpikan sosok ayah yang tak pernah ditemuinya. Dia selalu menceritakan mimpi-mimpinya itu pada kakak perempuannya, Voula. Bertemu sosok sang ayah menjadi puncak harapan dari keduanya. Ketika keinginan itu sudah tak tertahankan lagi, keduanya memutuskan untuk pergi menuju Jerman, tempat sang ayah berada menurut perkataan ibunya. Perjalanan yang kelihatan mudah bagi orang dewasa namun tidak bagi mereka berdua yang masih kecil. Terlebih lagi mengingat kenyataan bahwa keberadaan sang ayah hanyalah karangan ibunya untuk menutupi realitas yang, bagi anak kecil, sulit untuk diterima. Pada suatu titik, kebenaran ini terungkap, tapi mereka berdua tak mengindahkannya dan bertekad meneruskan pencariannya. Pengungkapan ini menjadi titik balik penting dalam film ini. Angelopoulos menggunakan perjalanan mereka sebagai alegori perjuangan manusia mencari arti kehidupan dalam dunia yang kelihatannya sudah tak berarti lagi.

Sepanjang perjalanan mereka berdua bertemu banyak orang. Dua yang menonjol adalah pertemuan dengan Orestes, seorang pemuda dari rombongan teater, dan dengan seorang pengemudi truk. Orestes, dan kelompoknya, adalah orang-orang yang sedang dalam pencarian juga, melanglang buana ke penjuru Yunani mementaskan drama yang sama. Hanya saja mereka tak menemukan penonton. Suatu kali, Orestes menemukan sebuah negatif film dan bertanya apa mereka bisa melihat sebatang pohon yang terletak di balik kabut. Orestes hanya menggoda mereka karena memang tidak ada pohon dalam negatif itu. Seperti itulah pencarian mereka, mencari sesuatu yang tak terlihat, atau justru tak ada di sana. Mungkin karena itulah kakak beradik itu menjadi dekat dengannya, disamping karena pembawaannya yang kebapakan. Waktu yang dihabiskan bersama Orestes adalah oase ditengah-tengah pencarian yang tak menentu. Sedangkan pertemuan dengan seorang supir truk adalah waktu tersuram dalam perjalanan mereka, terutama bagi Voula. Dan ujungnya, kita disuguhi sebuah adegan brutal yang dikemas dengan sangat indah oleh Angelopoulos. Kita hanya melihat dampak kebrutalan itu lewat darah (dari kemaluannya yang terkoyak?) yang dioleskan Voula di dinding truk.

Seperti yang saya katakan di awal, ini adalah perjalanan fisik dan spiritual. Perjalanan mereka berdua adalah transisi dari masa anak-anak yang lugu menuju dunia orang dewasa. Melalui pertemuan dengan berbagai jenis orang mereka mendapatkan pengalaman baru yang mendewasakan. Saat Alexander lapar, dia harus bekerja untuk mendapatkan uang untuk membeli makanan. Inilah dunia orang dewasa itu, dimana terkadang peristiwa menyedihkan dan menyenangkan bersanding dengan ironis (adegan kuda mati dan pernikahan yang menjadi latar belakangnya). Sepanjang perjalanan mereka mengalami rasa suka, sedih, putus asa, ketidakpedulian orang-orang di sekitar, keterasingan, pengkhianatan, tindakan biadab dan sepercik cinta.

Seperti film-film Angelopoulos yang lain, Landscape in the Mist penuh dengan adegan-adegan dengan pengambilan gambar yang tertata rapi, dengan banyak momentum sunyi untuk berkontemplasi, liris dan dipenuhi dengan imaji-imaji simbolik. Orang-orang yang membeku karena terpana dengan salju yang turun tiba-tiba, sepotong tangan raksasa (tangan Tuhan?) yang diangkat dari dasar lautan adalah beberapa adegan yang akan selalu melekat dalam ingatan. Tentu saja ada makna dibalik semua itu, bahkan bisa jadi berlapis, jika ditelaah lebih lanjut. Seperti yang tergambar dalam adegan penutup, dimana Alexander dan Voula berjalan dalam selimut kabut dan setelah beberapa saat sebatang pohon terlihat di kejauhan. Itu seperti harapan yang menjadi kenyataan, setelah di awal mereka tak bisa melihat pohon di balik kabut yang, menurut Orestes, ada di negatif film yang mereka temukan. Angelopoulos sepertinya ingin kita melihat setiap adegan dengan seksama. Dan dengan kesabaran dan ketelitian, kekayaan makna yang tersirat dalam setiap adegan akan terkuak.


0 Santa Sangre (1989)



Sutradara: Alejandro Jodorowsky
Pemain: Axel Jodorowsky, Blanca Guerra, Adan Jodorowsky, Guy Stockwell

Santa Sangre, film dari Alejandro Jodorowsky ini bergenre horor. Jadi sudah sewajarnya bila penonton mengharapkan adegan-adegan yang mampu membuat bulu kuduk merinding dalam film ini. Dan, dalam taraf tertentu, itulah yang terjadi. Akan tetapi, mengkotak-kotakkan Santa Sangre dalam kategori yang sempit semacam itu hanya akan menjadi perangkap yang mengkerdilkan kekayaan yang terkandung dalam film ini. Santa Sangre adalah parade imajinasi yang sureal, ganjil dan absurd, dimana bayangan samar Fellini, Bunuel dan Lynch turut serta dalam iring-iringan yang riuh namun kelam.

Adegan pembuka memperlihatkan seorang lelaki, telanjang dan sepertinya ketakutan, tengah meringkuk di atas sebatang kayu di bangsal rumah sakit jiwa. Lalu dokter dan perawat masuk membawa dua porsi makanan, salah satunya adalah ikan mentah. Seorang dokter menawarkan makanan yang wajar dan meminta Fenix, nama lelaki itu, untuk makan seperti layaknya manusia normal. Diabaikan, dokter itu menawarkan ikan mentah, yang anehnya justru dimakan dengan lahap oleh Fenix. Tampak jelas bahwa kondisi mental Fenix telah terdegradasi sampai taraf mendekati binatang. Dia bahkan tidak mau, atau tidak bisa, atau takut, untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Muncul pertanyaan, apa yang membuatnya berlaku abnormal seperti itu? Di titik ini, Jodorowsky memainkan peran sebagai seorang psikoanalis yang melacak akar permasalahan psikologis itu di masa lalu.

Melalui kilas balik, penonton diajak menelusuri jejak Fenix semasa kecil. Dia adalah seorang pesulap kecil dan dibesarkan di lingkungan sirkus. Ayahnya adalah seorang lelaki gemuk yang ahli melempar pisau sekaligus pemilik sirkus itu. Sedang ibunya selain sebagai pemain sirkus juga merangkap sebagai pimpinan sekte religius Santa Sangre, sekte yang memuja orang suci dalam wujud seorang wanita yang tangannya terpotong. Dikelilingi oleh badut, orang kerdil, binatang-binatang eksotis, dan pertunjukan-pertunjukan ajaib, apakah Felix kecil menjalani masa kecil yang menyenangkan? Jika benar maka dia tentu tak akan berakhir di rumah sakit jiwa. Pada kenyataannya dia mengalami kejadian yang akan membuat mentalnya terganggu. Kedua tangan ibunya dipotong oleh sang ayah, yang kemudian bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri. Semua itu disebabkan oleh adanya wanita lain yang masuk dalam kehidupan rumah tangga itu. Trauma atas kejadian itu masih membekas kuat dalam ingatannya.

Kembali ke masa sekarang, Fenix kabur dari rumah sakit jiwa untuk menemani dan menjadi tangan bagi ibunya yang buntung. Kita melihat bahwa sang ibu adalah sosok yang dominan dalam kehidupan Fenix. Kapanpun dibutuhkan, Fenix akan meminjamkan tangannya pada sang ibu, mulai dari hal sederhana seperti makan sampai melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Ibunya punya kuasa penuh atas kedua tangan Fenix. Dan dari sini, rentetan pembunuhan itu dimulai. Setiap kali ada wanita yang mendekati Fenix, ibunya menggunakan tangannya untuk membunuh wanita itu.

Secara alur cerita keseluruhan, Santa Sangre terlihat seperti horor pembunuhan balas dendam yang klise. Namun bukan Jodorowsky namanya, yang dikenal sebagai dedengkot cult cinema, jika film ini hanya sebatas menawarkan adegan-adegan tikam-tusuk-sayat yang berdarah-darah. Sepanjang film ini penuh dengan imaji-imaji sureal dan ganjil, seperti jika kita sedang bermimpi atau berfantasi. Menelaah dasar logika dari setiap adegan tidaklah berguna, dan mungkin memang tak perlu dijelaskan. Nikmati saja sisi banal dari fantasi ala Fellini yang dipadu dengan gaya surealis Bunuel dalam situasi yang terlihat ganjil dan absurd seperti yang biasa ditemukan dalam film-filmnya David Lynch.


7/04/2013

4 Memories of Underdevelopment (1968)


Judul asli: Memorias del Subdesarrollo
Sutradara: Tomas Gutierrez Alea
Pemain: Sergio Corrieri, Daisy Granados

Fidel Castro, Insiden Teluk Babi, dan ancaman perang nuklir. Bisa jadi tiga hal itulah yang paling sering dibicarakan orang jika menyangkut Kuba, sekaligus menempatkan negara kecil di Laut Karibia itu dalam sorotan dunia. Dekade 1960-an adalah masa paling bergolak dalam sejarah Kuba, dan dalam konteks lebih luas, Perang Dingin antara Soviet dan Amerika Serikat. Revolusi Kuba dan naiknya Fidel Castro merupakan ancaman serius terhadap kepentingan Amerika, yang sebelumnya menjalin hubungan erat dengan rezim Batista. Hubungan itu semakin memanas ketika sekelompok gerilyawan anti Castro yang disinyalir mendapat dukungan dari pemerintahan Kennedy mendarat di Teluk Babi dan semakin meruncing saat Nikita Kruschev mengirimkan misil-misil berhulu ledak nuklir ke Kuba. Pada titik itu, dunia berada di ambang perang nuklir, dan Kuba adalah pemegang kuncinya.

Sejarah mengatakan seperti itu. Akan tetapi diluar hiruk pikuk politik dan bayangan apokaliptik yang akan terjadi, hanya sedikit yang diketahui seperti apa sebenarnya keadaan di Kuba saat itu dan bagaimana kondisi individu-individu yang terperangkap dalam situasi semacam itu. Tomas Gutierrez Alea menyadari penuh hal itu dan lewat Memories of Underdevelopment mencoba menggambarkan keadaan bergejolak itu melalui perspektif orang Kuba sendiri.

Adalah seorang pria dari kelas borjuis, Sergio, yang setelah ditinggal oleh keluarga dan teman-temannya kabur ke Miami, mencoba mendefinisikan tempatnya di tengah komunitas yang berubah. Bimbang, sendirian dan bosan, dia mencerna kembali hubungannya dengan (mantan) istrinya, teman-temannya, dan terutama dengan Elena, seorang gadis belia yang menjadi kekasihnya. Namun Sergio seolah tak mendapati perubahan itu. Kotanya, orang-orangnya, budayanya, semuanya masih tampak sama bagi dirinya.

Meski terselubung, tak sulit untuk menarik garis kesamaan antara kehidupan Sergio dengan keadaan Kuba. Kondisi psikologis seorang individu bisa menjadi cerminan kondisi masyarakatnya (negara). Dua-duanya berada dalam titik kritis, tetapi alih-alih mendapatkan perubahan, keduanya sama-sama stagnan dan tak berkembang. Sergio gagal mengubah Elena menjadi sosok yang sesuai dengan konsep ideal yang ada di kepalanya, sama halnya dengan revolusi yang tak menghasilkan pencerahan dan justru mendorong pada penghancuran diri sendiri. Pada akhirnya Sergio tersandung masalah ketika ingin meninggalkan Elena. Kecewa oleh sebab ketidakmampuannya untuk mengubah keadaan dan menjalin koneksi dengan masyarakat sekitarnya, membuat Sergio menarik diri. Sebuah mekanisme pertahanan diri karena merasa asing dengan sekitarnya. Aku bisa hidup seperti ini selama berpuluh-puluh tahun lagi, kata Sergio, wujud dari penolakannya untuk terlibat dalam realitas. Di kemudian waktu, itulah yang akan dialami oleh Kuba, isolasi dari dunia di sekelilingnya.

Seperti The Mirror-nya Tarkovsky, inti dari Memories of Underdevelopment adalah hubungan antara pikiran seorang individu yang merepresentasikan keadaan di dunia luar, dalam hal ini, sebuah entitas politik bernama negara. Kesadaran dan pikiran individu adalah juga kesadaran dan pikiran kolektif. Namun tidak seperti Tarkovsky yang sepertinya ingin mengobrak-abrik pikiran penontonnya dengan narasi arus kesadaran yang membutuhkan pembacaan mendalam, Alea menarasikannya dengan halus, disertai cuplikan-cuplikan dokumenter dan foto yang terekam pada masa itu yang membuat film ini sangat ‘kaya’ dan inovatif.

5/10/2013

4 Enter the Void (2009)


Sutradara: Gaspar Noe
Pemain: Nathaniel Brown, Paz de la Huerta, Cyril Roy

Setelah berhasil membuat syok para penikmat film melalui kekerasan yang ekstrim dan adegan pemerkosaan yang berlangsung sangat lama yang menjadi sajian utama dalam Irreversible, sepertinya belum cukup memuaskan ambisi Gaspar Noe. Dia sepertinya ingin melanjutkan hentakan mengejutkan itu lewat Enter the Void, sebuah karya ambisius yang berusaha menerobos batas film sebagai medium bagi kreatifitas: menyajikan film sebagai sebuah pengalaman visual yang tak terlupakan. Begitulah. Dengan pengambilan gambar yang seolah ingin menempatkan penonton dalam posisi seorang pecandu dan pengedar narkoba bernama Oscar, Enter the Void mencoba mengantar penonton – melalui distorsi ruang dan waktu, gemerlap permainan cahaya, persepsi dan halusinasi – mengarungi sebuah pengalaman yang berakar dari pertanyaan menggelitik tentang eksistensi manusia: seperti apakah keadaan paska kematian itu?

Meskipun terdapat poin-poin yang bisa membuat film terkesan menarik setidaknya dari segi aksi (pengedar narkoba, penari telanjang, bar mesum) jangan terlalu berharap pada ceritanya karena pada kenyataannya sangatlah sederhana. Oscar (Nathaniel Brown), seorang pecandu dan pengedar kelas teri, bersama adiknya Linda, seorang penari telanjang, tinggal dalam gemerlapnya dunia malam di Tokyo. Sebuah transaksi narkoba tak berlangsung lancar dan menyebabkan Oscar tertembak.

Ada ungkapan yang menyebut bahwa sesaat sebelum ajal menjemput, perjalanan hidup seseorang melintas dihadapannya. Setelah penembakan itu, sudut pandang kamera yang mewakili persepsi Oscar, dan juga penonton, berjalan-jalan tanpa mengenal batas ruang dan waktu, menyusuri jejak masa kecilnya, baik yang menyenangkan maupun yang traumatis, menelaah kejadian-kejadian sebelum terjadinya transaksi yang berakhir tragis dan melihat peristiwa yang terjadi setelah dirinya tertembak. Kurang jelas apakah rohnya yang melayang atau semua yang terjadi hanyalah bentukan dari pikirannya. Apapun itu, ini seperti perjalanan spiritual dari jiwa tanpa tubuh yang bisa jadi merupakan eksplorasi dari keadaan seseorang paska kematian. Dan ketika kamera menempatkan diri dalam sudut pandang roh Oscar (atau sesuatu semacam itu), kerja kamera benar-benar dimaksimalkan oleh Gaspar Noe. Mengambil sudut pandang seperti burung yang terbang melintasi kota dengan cepat, kemudian menerobos kabin pesawat, masuk ke dalam vagina seseorang yang sedang melakukan coitus, bahkan menerobos ke dalam pikiran seseorang. Sama sekali tak ada yang menghambatnya.

Berurusan dengan tema yang pelik tidak menjadikan Enter the Void dalam diskursus yang rumit, apalagi Noe menekankan film ini lebih ke aspek visualnya, terbukti dengan dialognya yang dangkal dan nyaris tak berisi. Durasinya yang lama dan banyaknya adegan-adegan yang bersifat repetitif, boleh jadi akan membuat penontonnya merasa lelah dan bosan. Perkecualian mungkin adegan kecelakaan yang diulang beberapa kali sehingga memunculkan kesan traumatis yang mendalam pada karakter tokohnya. Akting Paz de la Huerta yang monoton, jika tak mau dibilang sangat kurang meyakinkan, dan sepertinya hanya bersandar pada pakaiannya yang selalu kekurangan bahan, menjadi titik lemah bagi film ini. Meskipun begitu, usaha sang sutradara untuk selalu menyajikan pengalaman yang unik, kreatif dan berbeda dari yang lain, layak untuk diapresiasi. Seperti Irreversible, film ini juga akan menghasilkan opini penonton yang terbelah. Di satu sisi akan ada yang menyukainya setengah mati, di sisi lain akan ada yang merasakan kebosanan akut sampai-sampai dia berharap lebih baik mati saja daripada menyelesaikan menonton Enter the Void.

3/29/2013

0 Tales from the Golden Age (2009)


Judul asli: Amintiri din epoca de aur
Sutradara: Cristian Mungiu, Hanno Hofer, Constantine Popescu, Ioana Uricaru, Razvan Marculescu
Pemain: Alexandru Potocean, Avram Birau, Vlad Ivanov, Ion Sapdaru, Diana Cavallioti

Seekor babi meledak ketika hendak dimasak, pemalsuan foto yang gagal, dua remaja mengaku sebagai pegawai penguji polusi udara untuk mendapatkan botol bekas, seorang aktivis naif yang mencoba memberantas buta aksara, beberapa sketsa itu adalah bagian dari sebuah omnibus tentang keadaan masyarakat Rumania selama 15 tahun terakhir dalam cengkeraman rezim Nicola Ceausescu, yang oleh otoritas disebut sebagai era keemasan. Tales from the Golden Age merupakan rangkuman mitos-mitos urban yang diolah Cristian Mungiu bersama empat sutradara lain dan dikemas dalam bentuk komedi gelap. Film ini sedikit banyak mengikuti tema film Mungiu pemenang Palm d’Or 2007, 4 Months 3 Weeks and 2 Days, dengan mengedepankan absurditas kehidupan masyarakat dibawah pemerintahan otoriter.

Ada enam kisah, masing-masing disebut dengan istilah “legenda,” yang semua skenarionya ditulis oleh Mungiu: Legenda Kunjungan Resmi, Legenda Fotografer Partai, Legenda Seorang Aktivis Tekun (di sebagian rilis tidak dimasukkan), Legenda Polisi Tamak, Legenda Penjual Udara, dan Legenda Sopir Truk Ayam. Empat kisah pertama dikenal juga dengan Tales of Authority, sedang 2 yang terakhir sebagai Tales of Love.

Seperti tersirat dalam sub judulnya, empat kisah pertama yang durasinya lebih pendek, menitikberatkan pada bagaimana bentuk represi totalitarian itu masuk dan mempengaruhi tingkah laku masyarakatnya. Dalam bentuknya yang paling ekstrim dijumpai pada “Legenda Kunjungan Resmi.” Sebuah desa tengah mempersiapkan kunjungan tamu internasional dari berbagai negara. Dalam satu komando dari pusat, mereka memoles tampilan luar sedemikian rupa sampai ke rincian terkecil – burung merpati yang harus berwarna putih, arak-arakan domba dan bukan sapi (karena ada delegasi dari India), warna dari hiasan. Semua itu dilakukan semata demi pencitraan. Pencitraan dilakukan tak hanya untuk mengesankan dunia internasional, tetapi juga dilakukan terhadap masyarakatnya sendiri, seperti yang terlihat dalam “Legenda Fotografer Partai.” Namun sebuah kesalahan dalam memalsukan foto Ceausescu diikuti usaha untuk melestarikan pencitraan justru mengakibatkan munculnya mitos baru: untuk pertama kalinya surat kabar partai tak diterbitkan pada hari itu. Ironisnya, semua pencitraan itu dilakukan untuk menutupi kebohongan. Dalam realitasnya, bahkan untuk sekedar mendapatkan barang kebutuhan pokok – daging babi untuk menyambut Natal dan telur untuk Paskah – sangat sulit. Dan ketika seorang polisi mendapat kiriman babi hidup menjelang Natal, hal itu bukannya berkah tapi justru menjadi musibah.

Meskipun mampu mendeskripsikan dengan jernih bentuk represi dan paranoia yang terjadi di masyarakat, durasi pendek dari empat kisah anekdot tersebut membuat eksplorasi temanya menjadi kurang mendalam, dibandingkan dua kisah Tales of Love yang lebih sublim, terutama “Legenda Sopir Truk Ayam.” Kisah yang terakhir ini sepertinya bisa mewakili keseluruhan antologi ini. Bagaimana aturan sekecil apapun, apabila dilanggar, konsekuensinya sangat besar.

Hadir sebagai bagian dari perayaan 20 tahun kejatuhan rezim Ceausescu, Tales from the Golden Age sepertinya ingin mengenang masa-masa kelam tersebut dengan cara menertawakannya. Humor, lebih spesifik lagi adalah humor gelap, bisa jadi merupakan cara untuk melihat semua kesengsaraan di masa lalu tanpa merasa marah atau sedih, dan dengan begitu, hantu masa lalu itu akan tetap diingat dan dijadikan pelajaran kedepannya.
 

Kala Ireng Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates